RSS

Definisi Dan Perbedaan Istilah Hadits, Sunnah, Khabar

25 Jul

DEFINISI DAN PERBEDAAN ISTILAH HADIS, SUNNAH, KHABAR, ATSAR

 

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Hadis

yang diampu oleh Bapak Muhammad Ali Mustofa Kamal, Alh., S.Th.I.

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Alpian

 

 

 

 

 

fakultas syari’ah hukum islam (as)

Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ)

Jawa Tengah di Wonosobo

 

2012

 

PENDAHULUAN

 

Hadis disebut juga as-Sunnah. Hadis sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau lainnya, sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an.

Hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam di samping Al-Qur’an. Untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an sering kali perlu untuk meninjau tentang kondisi masyarakat ketika ayat-ayat  itu turun dan hubungan antara rentetan peristiwa dengan turunnya ayat-ayat tertentu. Informasi semacam itu diperoleh dari hadis.

Dalam makalah ini mencoba untuk menjelaskan “Definisi dan Perbedaan Istilah Hadis, Sunnah, Khabar dan Atsar”.

PEMBAHASAN

 

Definisi Hadis

Adalah ilmu yang membahas tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan sanad dan matan suatu hadis dari segi diterima dan ditolak.

Hadis mempunyai beberapa sinonim/muradif menurut para pakar ilmu hadis, yaitu Sunnah, Khabar, dan Atsar. Masing-masing istilah ini nanti akan dibicarakan pada pembahasan makalah berikut.

Sebelum berbicara pengertian hadis secara terminologi (istilah) dan dari etimologi (bahasa). Kata “Hadits” berasal dari akar kata :

Hadis dari akar kata di atas memiliki beberapa makna, di antaranya :

  1.           ; (al-jiddah = baru), dalam arti sesuatu yang ada setelah tidak ada atau sesuatu yang wujud setelah tidak ada, lawan dari kata al-qadim = terdahulu, misalnya :                               (Alam baru). Alam maksudnya segala sesuatu selain Allah, baru berarti diciptakan setelah tidak ada. Makna etimologi ini mempunyai konteks teologis, bahwa segala kalam selain kalam Allah bersifat hadits (baru), sedangkan kalam Allah bersifat qadim (terdahulu).
  2.            (ath-thari = lunak, lembut dan baru). Misalnya:                     (pemuda laki-laki). Ibnu Faris mengatakan bahwa hadis dari kata ini karena berita atau kalam itu datang secara silih berganti[1] bagaikan perkembangan usia yang silih berganti dari masa ke masa.
  3.                    (al-khabar = berita, pembicaraan dan perkataan), oleh karena itu ungkapan pemberitaan hadis yang diungkapkan oleh para perawi yang menyampaikan periwayatan jika bersambung sanadnya selalu menggunakan ungkapan :      (memberitakan kepada kami), atau sesamanya seperti mengkhabarkan kepada kami, dan menceritakan kepada kami. Hadis ini diartikan sama dengan al-khabar dan an-naba’.

Makna etimologis ketiga di atas lebih tepat dalam konteks istilah Ulumul Hadis, karena di sini yang dimaksud hadis adalah berita yang datang dari Nabi SAW. Menurut Abu Al-Baqa’, hadis adalah isim dari kata at-tahdits yang diartikan al-ikhbar = pemberitaan, kemudian menjadi termin nama suatu perkataan, perbuatan, dan persetujuan yang disandarkan kepada Nabi SAW.[2] Menurut Al-Farra al-ahadits jamak (plural) dari kata uhdutsah kemudian dijadikan plural bagi kata Hadis.

Dari segi terminologi, banyak para ahli hadis (muhadditsin) memberikan definisi yang berbeda redaksi tetapi maknanya sama, di antaranya Mahmud Ath-Thahan (guru besar Hadis di Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Universitas Kuwait) mendefinisikan :

Sesuatu yang datang dari Nabi SAW baik berupa perkataan atau perbuatan dan atau persetujuan. [3]

Menurut Istilah Ahli Hadis

Segala ucapan Nabi, segala perbuatan beliau dan segala keadaan beliau.[4]

Masuk ke dalam keadaannya, segala yang diriwayatkan dalam Kitab Sejarah, seperti kelahirannya, tempatnya dan yang bersangkut paut dengan itu, baik sebelum bangkit, maupun sesudahnya, sebagian ulama seperti Ath-Thiby berpendapat bahwa hadis itu melengkapi sabda Nabi SAW. Perbuatan beliau dan takrir beliau melengkapi perkataan, perbuatan dan takrir sahabat, sebagai melengkapi pula perkataan, perbuatan dan taqrir tabi’in.[5]

Dengan demikian, terbagilah hadis kepada sembilan bagian. Pendapat ini diterangkan oleh Al-Hafidz di dalam An-Nakhbah. Maka sesuatu hadis yang disampaikan kepada Nabi dinamai marfu yang sampai kepada sahabat mauquf dan yang sampai kepada tabi’in saja dinamai maqthu.[6]

Muradifnya Sunah, Khabar dan Atsar

Sebenarnya lafal hadis tertentu dengan yang marfu’ untuk yang lain terkecuali ada karinah.[7] Sebagaimana keterangan di atas bahwa ada berapa istilah yang merupakan sinonim dari kata hadis yaitu sunnah, khabar, dan atsar. Berikut ini akan dibahas masing-masing yaitu sebagai berikut :

  1. 1.      Sunnah

Sunnah menurut bahasa banyak artinya di antaranya :                      = suatu perjalanan yang diikuti, baik dinilai perjalanan baik atau perjalanan buruk. Misalnya sabda Nabi:

Barang siapa yang membuat suatu jalan (Sunnah) kebaikan, kemudian diikuti orang maka baginya pahalanya dan sama dengan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat suatu jalan (Sunnah) yang buruk, kemudian diikutinya maka atasnya dosa dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (H.R. At-Tirmidzi)

Sunnah baik seperti yang dicontohkan Nabi memang harus diikuti, tetapi sunnah orang-orang yang tidak bertanggung jawab harus dijauhi. Hadis di atas memberikan motivasi sunnah yang baik dan mengancam sunnah yang buruk.

Makna sunnah lain diartikan :                    = tradisi yang kontinu, misalnya firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath (48) : 23:

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.

 

Sunnah menurut istilah, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, di antaranya sebagai berikut :

  1. Menurut ulama ahli hadis (Muhadditsin), sunnah sinonim hadis sama dengan definisi hadis di atas. Di antara ulama ada yang mendefinisikan dengan ungkapan yang singkat :

Segala perkataan Nabi SAW, perbuatannya, dan segala tingkah lakunya.[8]

  1. Menurut ulama Ushul Fikih (Ushulyun) :

Segala sesuatu yang diriwayatkan dan Nabi SAW baik yang bukan Al-Qur’an baik berupa segala perkataan, perbuatan, dan pengakuan yang patut dijadikan dalil hukum syara’.[9]

Sunnah menurut ulama Ushul Fikih hanya perbuatan yang dapat dijadikan dasar hukum Islam. Jika suatu perbuatan Nabi tidak dijadikan dasar hukum seperti makan, minum, tidur, berjalan, meludah, menelan ludah, buang air, dan lain-lain maka pekerjaan biasa sehari-hari tersebut tidak dinamakan sunnah.

  1. Menurut ulama Fikih (Fuqahâ) :

 

Sesuatu ketetapan yang datang dan Rasulullah SAW, dan tidak termasuk kategori fardlu dan wajib, maka ia menurut mereka adalah sifat syara’ yang menuntut pekerjaan tapi tidak wajib dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya.

 

Menurut ulama Fikih, sunnah dilihat dari segi hukum sesuatu yang datang dari Nabi tetapi hukumnya tidak wajib, diberi pahala bagi yang mengerjakannya dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya. Contohnya seperi shalat, sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain.

  1. Menurut ulama maw’izhah (‘Ulama Al-Wa’zhi wa Al-Irsyâd):

Sesuatu yang menjadi lawan dan bid’ah.[10]

Sebagaimana dalam hadis Nabi :

Aku wasiatkan kepadamu dengan takwa kepada Allah, mendengar, dan taat sekalipun dipimpin seorang hamba yang hitam (etiopia). Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian akan melihat berbagai perpecahan. Takutlah dari hal-hal yang baru, sesungguhnya ia sesat. Barang siapa di antara kalian yang mendapati, maka hendaklah berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi gerahammu. (HR. At-Tirmidzi)

Agar lebih luas wawasan kita terlebih dahulu akan dipaparkan definisi bid’ah yang merupakan antonim sunnah. Menurut bahasa bid’ah =

(al-amr al-mustahdats) = sesuatu yang baru seperti firman Allah Surah Al-An’âm (6): 101:

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri.

 

Jadi bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang baru pertama kali tidak ada sebelumnya atau tidak ada contoh sebelumnya.

Bid’ah menurut istilah adalah :

Segala sesuatu yang dibuat baru oleh manusia baik berupa perkataan atau perbuatan dalam agama dan syi’ar-syi’arnya yang tidak ada contohnya dari Nabi atau dan para sahabat. [11]

Definisi bid’ah tersebut merujuk kepada hadis di atas atau hadis-hadis lain yang perintah mengikuti sunnah Nabi dan sunnah para sahabat. Coba lihat kembali hadis di atas konteks bid’ah yang sesat adalah yang tidak ada contohnya dari Nabi dan dari para sahabat terutama Khulafaur Rasyidin. Demikian juga diartikan tidak bersumberkan dari Nabi dan Khulafaur Rasyidin makna sesuatu yang baru dalam hadis Nabi di bawah ini  :

Barang siapa yang berbuat baru dalam perkaraku ini (agama) yang tidak dari padanya maka ia tertolak. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan definisi di atas, pengkodifikasian Al-Qur’an yang dilakukan sahabat pada masa Abu Bakar dan Utsman, penulisan dan pengkodifikasian hadis yang pernah dilarang Rasulullah pada masanya, shalat tarawih dilaksanakan seluruh malam Ramadhan sebanyak 20 rakaat pada masa Umar bin A1-Khaththab, dan adzan dua kali dalam shalat Jum’at dilakukan pada masa Utsman bin Affan, dan lain-lain tidak tergolong bid’ah yang tertolak, karena perbuatan tersebut dilakukan oleh para sahabat. Bahkan perbuatan-perbuatan itu dilakukannya secara konsensus (ijma’) tidak ada perselisihan di kalangan mereka.

Dengan demikian, sunnah menurut ulama maw’izhah adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi dan sahabat, sedangkan bid’ah antonim dari sunnah yaitu sesuatu yang tidak datang dari keduanya, seperti shalat wajib 3 atau 4 kali sehari semalam, semua shalat wajib dilaksanakan hanya 2 rakaat, ibadah haji dilakukan pada semua bulan dan lain-lain.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sunnah menurut ulama hadis lebih bersifat umum yaitu meliputi segala sesuatu yang datang dari Nabi dalam bentuk apapun, baik berkaitan dengan hukum atau tidak. Sedangkan sunnah menurut ulama Ushul Fikih dibatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan hukum saja dan yang tidak berkaitan dengan hukum seperti amal mubâhât seperti makan, minum, duduk, berdiri, jongkok, dan lain-lain tidak termasuk sunnah. Menurut ulama Fikih hanya melihat sepihak maksud hukum sunnah yang merupakan antonim dan wajib. Demikian juga sunnah di mata ulama maw’idzah yang hanya melihat pada sisi lawan sunnah tanpa melihat substansi dan makna yang tersirat dalam sunnah tersebut. Hadis dan sunnah perbedaannya, jika penyandaran sesuatu kepada Nabi walaupun baru sekali dikerjakan atau bahkan masih berupa azam (hadis hammi) menurut sebagian ulama disebut hadis bukan sunnah. Sunnah harus sudah berulang kali atau menjadi kebiasaan yang telah dilakukan Rasul. Perbedaan lain, hadis menurut sebagian ushuliyun identik dengan sunnah qawliyah saja, karena mereka melihat hadis hanya berbentuk perkataan sedangkan sunnah berbentuk tindakan atau perbuatan yang telah mentradisi secara kontinu.

Perbedaan para ulama dalam mendefinisikan sunnah lebih disebabkan karena perbedaan disiplin ilmu yang mereka miliki atau yang mereka kuasai dan ini menunjukkan keterbatasan pengetahuan manusia yang dibatasi pada bidang-bidang tertentu. Ulama hadis melihat Nabi sebagai figur keteladanan yang baik (uswatun hasanah), maka semua yang datang dari Nabi adalah sunnah. Ulama Ushul melihat pribadi Nabi sebagai pembuat syari’at (syâri’), penjelas kaidah-kaidah kehidupan masyarakat, dan pembuat dasar-dasar ijtihad. Ahli Fikih memandang segala prilaku Nabi mengandung hukum lima, yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Sedang ulama maw’izhah melihatnya sesuatu yang datang dari Nabi wajib dipatuhi dan diikuti.

  1. 2.      Khabar

Menurut bahasa khabar diartikan =        = berita. Dari segi istilah muhadditsin khabar identik dengan hadis, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi (baik secara marfu’, mawquf, dan maqthu’) baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat. Di antara ulama memberikan definisi :

Sesuatu yang datang dari Nabi SAW dan dari yang lain seperti dari para sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in atau orang-orang setelahnya.

 

Mayoritas ulama melihat hadis lebih khusus yang datang dari Nabi, sedang khabar sesuatu yang datang dari padanya dan dari yang lain, termasuk berita-berita umat dahulu, para Nabi, dan lain-lain. Misalnya Nabi Isa berkata : …, Nabi Ibrahim berkata : … dan lain-lain, termasuk khabar bukan hadis. Bahkan pergaulan di antara sesama kita sering terjadi menanyakan khabar. Apa khabar? Dengan demikian khabar lebih umum dari pada hadis dan dapat dikatakan bahwa setiap hadis adalah khabar dan tidak sebaliknya khabar tidak mesti hadis.

  1. 3.      Atsar

Dari segi bahasa atsar diartikan                               = peninggalan atau bekas sesuatu, maksudnya peninggalan atau bekas Nabi karena hadis itu peninggalan beliau. Atau diartikan =            (yang dipindahkan dari Nabi), seperti kalimat :                      dari kata atsar artinya doa yang disumberkan dari Nabi.

Menurut istilah ada dua pendapat, pertama, atsar sinonim hadis. Kedua, atsar adalah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat (mawquf) dan tabi’in (maqthu’) baik perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama mendefinisikan :

Sesuatu yang datang dari selain Nabi SAW dan dari para sahabat, tabi ‘in dan atau orang-orang setelahnya.

 

Sesuatu yang disadarkan pada sahabat disebut berita mawquf dan sesuatu yang datang dari tabi’in disebut berita maqthu’. Menurut ahli hadis atsar adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi (marfu’), para sahabat (mawquf), dan ulama salaf. Sementara Fuqahâ Khurrasan membedakannya atsar adalah berita mawquf sedang khabar adalah berita marfu’. Dengan demikian atsar lebih umum dari pada khabar, karena atsar adakalanya berita yang datang dari Nabi dan dari yang lain, sedangkan khabar adalah berita yang datang dari Nabi atau dari sahabat, sedangkan atsar adalah yang datang dari Nabi, sahabat, dan yang lain. Sebutan seorang ahli hadis = Muhaddits, seorang ahli Sunnah = Sunni, seorang ahli Khabar = Khabari, dan ahli Atsar = Atsari. Untuk memudahkan pemahaman berikut ini dipaparkan resume pembahasan di atas. Berikut ini rangkuman perbedaan antara hadis, sunnah, khabar, dan atsar.

 

RANGKUMAN PERBEDAAN

HADIS DAN SINONIMNYA

Hadis dan Sinonimnya

Sandaran

Aspek dan Spesifikasi

Sifatnya

Hadis

Nabi

Perkataan (qawli)

Perbuatan (fi’li)

Persetujuan (taqriri)

Lebih khusus dan sekalipun dilakukan sekali

Sunnah

Nabi dan para sahabat

Perbuatan (fi’li)

Menjadi tradisi

Khabar

Nabi dan selainnya

Perkataan (qawli)

Perbuatan (fi’li)

Lebih umum

Atsar

Sahabat dan tabi’in

Perkataan (qawli)

Perbuatan (fi’li)

Umum

KESIMPULAN

 

Hadis merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi berupa qauliy, fi’liy, taqriry. Sunnah berarti tradisi yang kontinu ataupun suatu perjalanan yang diikuti.

Khabar datang bukan hanya dari Nabi melainkan juga dari sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in dan setelahnya. Atsar memiliki pengertian yang lebih umum dari khabar, karena atsar adakalanya berita yang datang dari Nabi dan dari yang lain. Sedang khabar adalah berita yang datang dari Nabi atau dari sahabat. Atsar adalah yang datang dari Nabi, sahabat dan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Masjid Khon, Abdul. 2008. Ulumul Hadis. Jakarta : Amzah.

Hasbi Ash-Shiddieqy, Muhammad. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. Ke-4. Semarang : Pustaka Rizki Putra.

Thahhan, Mahmud. 1999. Tafsir Musthalah Hadis. Yogyakarta : Titian Ilahi Press.


[1] Ibnu Faris, Al-Mayis fi Al-Lughah, hlm. 253.

[2] Shubhi Ash-Shalih, ‘Ulum Al-Hadits wa …, hlm. 4.

[3] Ath-Thahhan, Taysir Mushthalah Al-Hadits, hlm. 15 dan Amr bin Abdul Mun’im, Taysir Ulumul Al-Hadits, hlm. 12.

[4] Miftah Kunuzil, Sunnah, hlm. 155.

[5] Ahmad bin Hambal, hlm. 222.

[6] Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag., Ulumul Hadis, hlm. 4.

[7] Ilmu Hadis, hlm. 3.

[8] An-Nawawi, Tadrib Ar-Rawi, hlm. 5.

[9] Ahmad Umar Hasyim, As-Sunnah An-Nabawiyyah …, hlm. 17.

[10] Adil Muhammad Muhammad Darwisy, Nazharat fi …, hlm. 11.

[11] Ajaj Al-Khathib, Al-Mukhtashar Al-Wajiz …, hlm. 18-19.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: