RSS

contoh makalah wirausaha

 

 

MAKALAH

 

MOTIVASI MENJADI WIRAUSAHA

 

MakalahinidisusungunamemenuhitugasmatakuliyahKewirausahaan yang di

ampuoleh Bp. Eko Prawoto S.E, M.M

 

Manajemen

Oleh :

Alpian

 5110003

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI

 

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ )

 

JAWA TENGAH DI WONOSOBO

 

2012

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1  LatarBelakangMasalah

 

Untuk menjadi seorang wirausaha yang SUKSES dan KAYA itu bukan bakat, dan juga tidak harus keturunan. Tapi, Sukses dan kaya itu mimpi atau visi. Mimpi yang menjadi kenyataan. Artinya, kalau kita tidak berusaha sama sekali untuk menjadi kaya, misalnya dengan jalan berwirausaha, maka mana mungkin kekayaan itu kita dapat.

Terlepas dari itu, tapi yang jelas, semua orang pasti punya mimpi. Setiap kita menjalankan bisnis apapun, sebenarnya yang kita cari bukanlah semata-mata uang atau ingin kaya. Tapi, karena adanya keinginan kita untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagai konsekuensi logis atas jerih payah kita adalah kita bisa mendapatkan keuntungan atau uang, dan bisa juga aset kita yang semakin bertambah. Hal itu seiring dengan kegigihan kita di dalam menjalankan bisnis.

Jika kita sebagai seorang entreprener atau wirausahawan, yang namanya mimpi-mimpi bisnis tak akan ada habisnya. Seolah kita adalah sosok yang tak akan pernah kehabisan mimpi. Apalagi, kita termasuk entreprener yang kreatif dan inovatif. Bisnis yang satu maju pesat, bisnis yang lainnya ikut berkembang. Sementara, bisnis yang lainnya lagi ikut bermunculan. Sehingga, tak terasa atau bagaikan sebuah mimpi, ternyata bisnis kita semakin banyak. Aset yang kita miliki juga semakin bertambah.

Kalau bisnis kita semakin maju, tentu akan ada percepatan dalam penambahan aset. Bukan tak mungkin, kita akan semakin pintar memutar bisnis kita, bahkan mampu mendatangkan dana dari luar yang nantinya juga akan menjadi aset kita,itu semua berjalan seiring dengan mimpi atau visi kita sebagai entreprener.

Entrepreneur itu sosok yang seharusnya tidak takut dengan mimpi.Apalagi mimpi itu tidak perlu biaya. Tetapi, masalahnya adalah belum tentu semua orang punya keberanian bermimpi. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk bermimpi pun membutuhkan sebuaah keberanian.Hal ini bisa terjadi karena kita terkadang masih terpaku pada mitos-mitos yang tengah mentradisi di kalangan masyarakat luas. Misalnya, ada mitos yang mengatakan bahwa kalau kita mau sukses, kita harus punya gelar sarjana. Padahal kenyataannya, cukup banyak orang yang sukses tanpa menyandang gelar sarjana.

 

1.2 Rumusan Masalah              

Untuk memberikan uraian dari penjelasan makalah ini, maka diperlukan adanya perumusan masalah yang gunanya untuk membatasi pembahasan agar tidak menyimpang jauh dari topik yang telah ditentukan.

Dalam makalah ini telah dirumuskan yaitu:

  1. Bagaimana Mengubah Pola Pikir untuk menjadi seorang wirasusaha?
  2. Bagaimana Motivasi Berprestasi bagi seorang wirausaha?
  3. Apa saja Nilai  Hakiki Kewirausahaan?
  4. Sikap dan Kepribadiaan Kewirausahaan model proses kewirausahaan?

 

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

2.1 Mengubah Pola Pikir

Ada 4 karakteristik pebisnis dengan sikap piker wirausaha.

  1. Rajin dan semangat dalam mencari peluang baru.
  2. Mengejar peluang dengan disiplin ketat. Kegigihan wirausaha memang luar biasa. Tidak ada kata tidak bisa dalam kamus wirausaha. Kemunduran atau kegagalan dalam bisnis tidak membuat mereka putus asa dan berhenti.
  3. Wirausahawan hanya mengejar peluang paling baik dan hanya menghindari  mengejar semua peluang tidak pandang bulu. Wirausahawan sadar bahwa problem mereka bukanlah kekurangan gagasan bisnis melainkan terlalu berlimpah gagasan. Dengan demikian, tidak mungkin bagi mereka untuk mengejar semua peluang bagus. Prioritas adalah kata kuncinyaWirausahawan berfokus pada tindakan secara adaptif. Mereka tidak menunggu segala sesuatu sempurna sebelum memulai suatu bisnis. Lakukan dulu dengan persiapan secukupnya, tak perlu mendekati sempurna. Dalam bertindak, mereka selalu waspada.

 

dalam menghadapi situasi-situasi, dan fleksibel untuk menyesuaikan tindakan  mereka bila dirasa salah.

  1. Wirausahawan melibatkan dan memanfaatkan energi disekitar mereka didalam maupun diluar organisasi mereka. Mereka sadar bahwa mereka bukan orang super segalanya.

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut

Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.

Dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini.

Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri

Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.

3. Percaya pada kekuatan pikiran positif

Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Fokus pada hal-hal positif

Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti ‘hari ini cerah’ atau ‘makan sore hari ini menakjubkan’. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.

5. Hadapi rasa takut

Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

Ada banyak sifat yang dirujukkan pada seorang wirausahawan, misal, pemberani, pembuka jalan, pengambil resiko, bahkan serakah, rakus, dan macam-macam lainnya. Manusia-manusia langka yang berani menghadapi resiko dan berspekulasi dipandang sebagai pengusaha yang tega melakukan apa pun untuk meraih kekayaan sehingga merusak kesehatan dirinya sendiri. Yang jelas, semua image tersebut sudah seharusnya dibuang ke dalam keranjang sampah mistik dan kesalahpahaman.

 

Ada tiga sifat dan hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan sejati.Yaitu:

1. Visioner. Wirausahawan model lama biasanya suka melawan sesuatu. Karena, mereka menginginkan kebebasan dan melakukan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri,serta percaya bahwa mereka bisa melakukannya jauh lebih baik ketimbang orang lain. Tetapi, bagi seorang wirausahawan sejati, jiwa yang memberontak hanyalah sebagian kecil saja. Bagaimana pun, seorang wirausahawan sejati lebih merupakan seorang yang visioner.

2. Pencipta nasibnya sendiri. Wirausahawan tradisional menciptakan bisnis, dan ini merupakan motivator terbesar mereka. Namun, ketika bisnis telah diciptakan, kemana lagi mereka akan melangkah? Wirausahawan sejati bergerak menuju nasib dan takdir mereka. Mereka mendapat inspirasi dari sesuatu yang lebih luas daripada sekedar apa yang bisa mereka usahakan. Mereka pun menggali kekuatan batin dalam mereka dan melangkah penuh percaya diri. Mereka bisa tetap melangkah meski hambatan tampaknya mustahil dilalui.

3. Menarik perhatian. Semua wirausahawan mempunyai mimpi. Sebagian dari mereka berkeinginan untuk mencapai tujuan yang jelas, sedangkan yang lain hanya berkeinginan untuk menjadi seorang wirausahawan yang terkenal dan pertama.Mereka mendorong ide dan bisnis untuk melakukan sesuatu yang mungkin sulit dicapai orang lain.

Mereka tahu bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang lebih baik bagi klien dan rekan bisnis mereka. Dan, sebagai akibatnya bisnis mereka pun tumbuh.Tak peduli apakah anda sekarang ini adalah seorang wirausahawan atau sedang bermimpi menjadi seorang wirausahawan, memahami bagaimana menjadi seorang wirausahawan sejati tentu mempunyai banyak keuntungan bagi anda.

 

2.2 Motivasi Berprestasi

a. Definisi motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai keadaan dalam diri individu yang menyebabkan mereka berperilaku dengan cara yang menjamin tercapainya suatu tujuan. Motivasi menerangkan mengapa orang-orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Semakin wirausahawan mengerti perilaku anggota organisasi, semakin mampu mereka mempengaruhi perilaku tersebut dan membuatnya lebih konsisten dengan pencapaian tujuan organisasional. Karena produktivitas dalam semua organisasi adalah hasil dari perilaku anggota organisasi, mempengaruhi perilaku ini adalah kunci bagi wirausahawan untuk meningkatkan produktivitas.

b. Model-Model Motivasi

  • Model motivasikebutuhan-tujuan

MenurutMasykur (1996:204)

Model motivasi kebutuhan dan tujuan dimulai dengan perasaan kebutuhan individu. Kebutuhan ini kemudian ditransformasi menjadi perilaku yang diarahkan  untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan. Tujuan dari perilaku tujuan adalah untuk mengurangi kebutuhan yang dirasakan. Secara teoritis, perilaku mendukung tujuan dan perilaku tujuan berkelanjutan sampai kebutuhan yang dirasakan telah sangat berkurang.

Contoh, seseorang mungkin merasakan kelaparan. Kebutuhan ini ditransformasikan pertama kedalam perilaku yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan untuk makan. Contoh dari perilaku yang mendukung termasuk juga aktivitas-aktivitas seperti membeli, memasak dan menyajikan makanan untuk dimakan. Perilaku pendukung tujuan tersebut dan perilaku tujuan makan itu sendiri akan berkelanjutan sampai individu  merasakan kebutuhan lapar menjadi berkurang. Sekali individu mengalami kebutuhan lapar kembali, daur tersebut akan mulai kembali.

  • Model ekspektasimotivasi Vroom

Model ekspektasi Vroom mengatasi beberapa kerumitan tambahan. Model ekspektasi Vroom didasarkan pada premis bahwa keburuhan yang dirasakan menyebabkan perilaku kemanusiaan. Akan tetapi, Disamping itu model ekspektasi Vroom mengungkapkan isu kekuatan motivasi. Kekuatan motivasi adalah tingkatan keinginan individu untuk menjalankan suatu perilaku. Ketika keinginan meningkat atu menurun, kekuatan motivasi dikatakan berfluktuasi.

  • Model motivasi Porter-Lawler

Portel dan Lawler telah mengembangkan suatu model motivasi yang menggambarkan uraian proses motivasi yang lebih lengkap disbanding model kebutuhan-tujuan atau model ekspektasi Vroom. Model motivasi Porter-Lawler ini konsisten dengan dua model sebelumnya dimana model ini menerima premis bahwa (1) kebutuhan yang dirasakan akan menyebabkan perilaku kemanusiaan; dan (2) usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tugas ditentukan oleh nilai balas jasa yang dirasakan yang dihasilkan dari suatu tugas dan probabilitas bahwa balas jasa tersebut akan menjual nyata.

Disamping itu, model motivasi Porter-Lawler menekankan tiga karakteristik lain dari proses motivasi:

  1. Nilai balas jasa yang dirasakan ditentukan oleh baik balas jasa intrinsic dan ekstrinsik yang menghasilkan kepuasan kebutuhan ketika suatu tugas diselesaikan. Balas jasa intrinsik berasal langsung dari pelaksanaan suatu tugas, sementara balas jasa ekstrinsik tidak ada hubungannya dengan tugas itu sendiri.
  2. Tingkatan dimana individu secara efektif menyelesaikan suatu tugas ditentukan oleh dua variablel: (1) persepsi individu tentang apa yang diperlukan untuk mrlaksanakan suatu tugas, dan (2) Kemampuan sesungguhnya daru individu untuk menjalankan suatu tugas.
  3. Keadilan balas jasa yang dirasakan akan mempengaruhi jumlah kepuasan yang dihasilkan oleh balas jasa tersebut. Pda umumnya, semakin adil balas jasa yang dirasakan oleh individu, semakin besar kepuasan yang dirasakan sebagai hasil dari menerima balas jasa tersebut

c. Motivasi prestasi McCLELLAND

Teori lain mengenai kebutuhan manusia dipusatakan kepada kebutuhan untuk berprestasi. Teori ini yang terutama dipopulerkan oleh David McClelland mendefinisikan kebutuhan berprestasi (need for achievement atau n Ach) sebagai keinginan untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik, atau dengan lebih efisien dibandingkan yang telah dikerjakan sebelumnya. McClelland mengatakan bahwa pada beberapa orang bisnis kebutuhan untuk berprestasi demikian kuat sehingga ia lebih termotivasi dibandingkan upaya mencapai keuntungan. Untuk memaksimumkan kepuasannya, individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi cenderung menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri yang adalah merupakan tantangan tetapi masih bisa dicapai. Walaupun individu-individu tersebut tidak menghindari resiko sepenuhnya, mereka menilai resiko dengan sangat hati-hati. Individu yang termotivasi keinginan berprestasi tidak ingin gagal dan akan menghindari tugas-tugas yang melibatkan terlalu banyak resiko. Individu dengan keinginan yang rendah untuk berprestasi umumnya menghindari tantangan, tanggung jawab, dan risiko.

  • Memotivasianggota-anggotaorganisasi

Orang-orang termotivasi atau menjalankan perilaku untuk memuaskan kebutuhan pribadi mereka. Oleh karena itu dari sudut pandang manajerial, memotivasi anggota organisasi adalah proses memberikan peluang pada mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai hasil menjalankan perilaku produktif organisasi.

  • Arti penting memotivasi anggota-anggota organisasi

Kebutuhan dari anggota organisasi yang tidak terpenuhi akan menyebabkan munculnya perilaku anggota organisasi yang tidak semestinya. Wirausahawan yang berhasil didalam memotivasi oanggota organisasi akan meminimalisasi terjadinya perilaku anggota organisai yang diinginkan. Motivasi anggota organisasi yang berhasil adalah sangat penting bagi wirausahawan.

  • Strategimemotivasianggotaorganisasi

Wirausahawan mempunyai berbagai strategi memotivasi anggota organisasi. Tiap strategi tersebut  ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan anggota organisasai konsisten dengan yang diuraikan oleh hirarki kebutuhan Maslow, dan motif berprestasi McClallend.

 

2.3 Nilai Hakiki Kewirausahaan

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat  dan  mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses. Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki  kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat,  mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif  dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Intinya,  seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya.   Orang-orang yang memiliki kreativitas  dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis,  sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir  kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi  tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata  tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam melakukan sesuatu yang baru.

Dengan demikian, ada tiga hakekat pentingnya Kewirausahaan, yaitu:

•  Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yangdijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, prosesdan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)

• Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulaisebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)

• Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yangbaru  (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalammemberikan nilai lebih.

.

2.4 Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan Model Proses Kewirausahaan

Menurut Inkeles (1974:24), Kualitas modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan tingkah laku dalam kehidupan social. Ciri-cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realistis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan dating bukan masa lalu, berencana, percaya diri, dan memiliki aspirasi, mempunyai keahlian, respek, hati-hati serta memahami produksi.

Ciri-ciri yang modern tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Gunar Myrdal, yaitu;

(1)   Kesiapan diri dan keterbukaan terhadap inovasi

(2)   Kebebasan yang besar dari tokoh-tokoh tradisional

(3)   Mempunyai jangkauan dan pand ngan yang luas terhadap berbagai masalah

(4)   Berorientasi terhadap masa sekarang dan yang akan dating

(5)   Selalu memiliki perencanaan dalam segala kegiatan

(6)

Menurut Kathleen L. Hawkins & Peter A. Turla (1986), pola tingkah laku kewirausahaan diatas tergambar dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut:

(1)   Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi resiko, memiliki dorongan, dan kemauan kuat.

(2)   Hubungan, dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antarpersonal, kepemimpinan dan manajemen

(3)   Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi.

(4)   Keahlian dalam mengatur, diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, penjadwalan, serta pengaturan pribadi.

 

Untuk dapat mencapai tujuan-tujuannya, maka diperlukan  sikap dan perilaku yang mendukung pada diri  seorang wirausahawan. Sikap dan Perilaku  sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak  yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses.

Daftar ciri-ciri dan sifat-sifat profil seorang wirausahawan:

Ciri-Ciri Watak

  1. PercayaDiri

Kepercayaandirimerupakansuatupaduansikapdankeyakinanseseorangdalammenghadapitugasataupekerjaan (SoesarsonoWijandi, 1988:33).Dalampraktik, sikapdankepercayaaninimerupakansikapdankeyakinanuntukmemulai, melakukandanmenyelesaikantugasataupekerjaan yang dihadapi.Oleh sebab itu,kepercayaandiri memilikikeyakinan,optimism,individualitas,danketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan (zimmerer, 1996:7)

Kepercayaan diri ini bersifat internal, sangat relative, dinamis, dan banyak ditentukan oleh kemampuan untuk memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang percaya diri memiliki kemampuan untuk  menyelesaikan pekerjaan dengan sistematis, berencana, efektif, dan efisien. Kepercayaan diri juga selalu ditunjukkan oleh ketenangan, ketekunan, kegairahan, dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan.

  1. Berorientasi pada Tugas dan Hasil

Seseorang yang selalumengutamakantugasdanhasiladalah orang yang selalumengutamakannilai-nilai motif berprestasi, berorientasipadalabaketekunandanketabahan, tekadkerjakeras, mempunyaidorongankuat, energik, danberinisiatif.

  1. KeberanianMengambilResiko

Kemauan dan kemampuan mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambila resiko akan sukar memulai atau berinisiatif. (Yuyun Wirasasmita, 1994: 2), Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Dengan demikian, keberanian untuk menanggung yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan resiko tang penuh dengan perhitungan dan realistis. Wirausaha situasi, resiko yang rendah karena tidak ada tantangan dan menjauhi situasi resiko yang tinggi karena ingin berhasil. Jadi, pengambilan resiko lebih menyukai tantangan dan peluang. Oleh sebab itu, pengambil resiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan.

  1. Kepemimpinan

Seorangwirausaha yang berhasilselalumemilikisifatkepemimpinan, kepeloporan, danketeladanan.Ia selalu ingin tampil berbeda, menjadi yang pertama, dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreatifitas dan inovasi, Ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang duhasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu, dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga menjadi pelopor dalam proses produksi maupun pemasaran. Iaselalumemanfaatkanperbedaansebagaisesuatu yang menambahnilai.

  1. BerorientasikeMasaDepan

Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan, maka ia selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada saat ini. Meskipun terdapat rersiko yang mungkin terjadi, Ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaruan masa depan.

Pandangan yang jauh kedepan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada saat ini. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.

Disamping hal-hal tersebut diatas, bersadarkan pengalaman dan pendapat para praktisi bisnis/wirausaha dapat disarikan pula sifat-sifat terpenting wirausaha.

Sifat-sifatterpentingdariwirausahawandikenaldengan Ten-D :

  1. Dream (mimpi) :Memilikivisimasadepandankemampuanmencapaivisitersebut.
  2. Decisiveness (ketegasan) :Tidakmenangguhkanwaktudanmembuatkeputusandengancepat.
  3. Dors (pelaku) : Melaksanakan secepat mungkin.
  4. Determination (ketetapan hati) : Komitmen total, pantang menyerah.
  5. Dedication (dedication) :Berdedikasi total, takkenallelah.
  6. Devotion (kesetiaan) :Mencintaiapa yang dikerjakan.

Sifat-sifatpenting lain dariSeorangWirausahawan :

  1. Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut
  2. Percayadiri
  3. MemilikiKetrampilan
  4. Berkarya, kreatifdaninnovatif
  5. Mencintaiapa yang dikerjakan

 

2.5 Apa saja yang harus dimiliki oleh wirausahawan

A. Visi dan Mimpi Mutlak Bagi Wirausahawan

Kalau entrepreneur berani memiliki visi, maka akan lebih dapat menciptakan kekuatan positif di dalam  pikirannya. Sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup kita. “Hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan”Presiden RI pertama, Ir. Soekamo, pernah bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Visi itu memang bisa mensugesti orang. Dan, semua langkah kita akan kita arahkan kesana. Apalagi entrepreneur ini biasanya seorang pemimpi. Maka mimpi tentang perusahaan, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat mempengaruhi para pengikut yang dipimpinnya.Anda “juru penerang”, mengusir gelapnya pikiran orang lain yang Anda pimpin. Ini prinsip kepemimpinan. Wirausahawan yang memiliki visi, adalah penerangan bagi para bawahannya, anggota “tim sukses”nya dalam bisnis.

Wirausahawan dengan visi besar, merangsang terbangunnya atmosfir bisnis penuh kreativitas dan inovasi. Bahkan orang meyakini, jiwa wirausahawan itu, dekat sekali dengan dunia pengkhayal.  Apa susahnya, berkhayal? Berkhayal adalah aktivitas yang “murah”. Bagaimaan tidak, karena berkhayal tidak memerlukan fasilitas khusus, apalagi ongkos. Sekarang juga, Anda pun bisa berkhayal. Tentu saja, khayalan seorang wirausahawan, bukan sembarang berkhayal. Bahkan, di zaman susah, dengan tumpukan persoalan hidup yang harus dipikul, bisa membuat orang pun tidak berani berhkayal. Anda akan tercenung, kalau kami katakan, “Berkhayal pun, perlu keberanian!”Mengapa? Khayalan yang memicu keberhasilan, atau minimal, keberanian berbuat dan berkreativitas, dihambat pandangan lama yang cuku berurat-akar dalam  benak kita, bahwa orang sukses harus ditopang pendidikan dan gelar formal. Sebetulnya, keyakinan ini bisa dipatahkan dengan mudah. Misalnya, hadirkan saja, beberapa nama orang sukses yang lulus SMA pun, tidak. Sejumlah wirausahawan, memulai dari khayalan. Dan ia mulai kembangkan khayalannya, dari nol sampai akhirnya terwujud.Bill Gates mengimpikan, personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, ia drop out dari studinya, memilih menekuni Microsoft-nya.

Tak bergantung pada keluarga, berarti mulai melangkah menjadi dewasa. Di rantau, apalagi di lingkungan yang tak tahu siapa kita sebelumnya, Anda bisa menjadi pribadi yang baru. Kebaruan ini, sarat tantangan. Merantau, menyadarkan kita apa kelebihan dan kekurangan kita karena kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan baru. Merantau, membuat seseorang relatif tangguh, karena diterjunkan dalam situasi serba baru. Perantau, umumnya segan minta tolong. Di situlah, kemauan menjadi lebih termotivasi. Perantau, rata-rata enggan berutang budi. Justru, karena ia orang baru, seorang perantau cenderung menanam jasa untuk banyak orang. “Investasi sosial” ini, pada saatnya berbuah kebaikan. Siapa sangka, banyak orang yang menyukai kepribadian kita, bernagsur-angsur, menjadi pendukung setia langkah kita menganyam kesuksesan. Jadi? Cobalah merantau, temukan jatidiri Anda yang tangguh, kreatif, dan cerdik menangkap peluang Berani Gagal Hanya orang yaug berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.

Pertama,kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua,setiap  bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga,biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk Keempat,kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Seorang wirausahawan, adalah yang selalu “melek” dan “buka telinga” terhadap setiap peluang. Sukses wirausahawan, bukan sekadar “rezeki dari langit”, tapi juga kejelian membaca/menangkap peluang. Dan ini memerlukan stamina usaha yang tinggi. Jangan ketakutan lebih dulu, seakan-akan wirausahawan itu orang yang tidak pernah beristirahat. Tidak! Secara fisik, istirahat perlu, tapi sebagai wirausahawan, pikiran “tetap jalan” dalam arti, keseharian kita dibiasakan terus memikirkan, kebaikan-kebaikan apa yang bisa dibangun berdasarkan peluang yang kita hadapi setiap saat.Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti hanya hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani.

B. P.R.A.C.T.I.C.E.S (TINDAKAN)yang Tepat dan Kepemimpinan Kewirausahaan

Kebiasaan kita adalah untuk menanik din kepada kenyamanan di dalam kepompong, sesuatu yang kita percayai lebih aman, di mana kita dapat bersantai sejenak tanpa perlu berkonsentrasi, dan mendapatkan sesuatu tanpa tenlalu memildrkan bagaimana kita melakukannya. Kebiasaan semacam ini harus digantikan dengan memahami pninsip-pninsip yang akan memastikan bahwa kita dapat mencapai tujuan kita dan berlatih dengan disiplin sampai kita bisa melakukannya.

C. ORANG-ORANG (People) yang Tepat

Anda harus menyukai orang-orang yang akan bekerja bersama Anda. Semakin Anda mengenal seseorang, semakin mungkin mereka menjadi lebih baik.. Namun realitasnya sungguh berbeda. Pemimpin wirausaha seharusnya hanya merekrut orang-orang yang memiliki chemistry yang cocok dengan mereka.Karena bersikap obyektif akan berakibat pada menemukan orang yang salah, Anda harus bersikap subjektif. Kita akan selalu peka secara intuitif terhadap orang lain; sepenti halnya terhadap sifat dan kemampuan mereka, namun kepekaan semacam ini sering kali tidak terdeteksi dalam proses seleksi yang formal.Akan cukup membantu untuk menerima bahwa dalam mengidentifikasi orang yang tepat terdapat tiga kategori yang dapat digunakan untuk mengelompokkan mereka. Apakah mereka orang yang bekerja melawan Anda, untuk Anda, atau dengan Anda. Demi kejelasan, jika orang bekerja melawan Anda, maka kemudian mereka sebaiknya tidak bekerja untuk Anda. Hanya ada satu pilihan yaitu menyingkirkan mereka. Sering terjadi klien tidak menyingkirkan koleganya dalam tindak nasionalisasi sebelum benar-benar terpaksa, yaitu setelah masalahnya menjadi terlalu besan dan organisasinya demikian menderita. Tanpa melihat situasinya, Anda akan tahu ketika orang lain bekerja tidak sesuai dengan keinginan Anda dan saya tidak bicara tentang politik atau pengumpulan nilai. Ketika perubahan diusulkan, contohnya, muncul karena dalam agenda tensembunyi tendapat penbedaan antara kritik membangun dan taktik gerilya.

D. PERAN (Role) yang Tepat

Orang yang tepat pada peran yang tepat, hingga dapat dipastikan bahwa sikapnya terhadap bagaimana ia menampilkan perannya akan tetap tepat. Selalu mantapkan peran Anda, pahami apa yang diharapkan dan Anda namun jangan batasi diri sendiri dengan harapan-harapan

E.SIKAP (Attitude) yang Tepat

Kepemimpinan kewirausahaan mencakup penanaman kepercayaan diri untuk berpikir, bertingkah laku dan bertindak dengan keberanian mengambil risiko dalam rangka merealisasikan sepenuhnya tujuan yang digariskan oleh organisasi untuk pertumbuhan yang menguntungkan bagi semua penanam modal yang terlibat.

F.KERJA TIM (Teamwork) yang Tepat

Menemukan orang-orang yang tepat, menjelaskan penan mereka, menampilkannya dengan sikap yang tepat dan mengkomunikasikan pesan yang tepat. Dengan tim semacam itu  mampu mengembangkan inovasi tepat yang mampu menarik pelanggan dan memastikan reputasi baik.

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

1. Dengan memperhatikan kondisi bangsa Indonesia saat ini (seperti banyaknya tenaga kerja, lapangan kerja yang sangat terbatas, rendahnya produktivitas, masih belum optimalnya penggunaan sumber daya alam serta ketidakstabilan ekonomi), maka peluang untuk meningkatkan produktivitas bangsa melalui pengembangan kewirausahaan sangat diperlukan dan masih terbuka lebar.

2. Disamping public policy serta fasilitas yang disediakan, maka kondisi, ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri akhirnya turut menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan yang relevan dan memenuhi persyaratan mengenai kurikulum, silabus, sistem delivery, instruktur, peserta, metode instruksional, sistem penilaian, proses dan hasil pendidikannya itu memang potensial dalam melahirkan pewirausaha masa depan yang prospektif.

3. Bahwa public policy dari pemerintah RI tidak boleh bersifat diskriminatif atas dasar apapun. Semua kelompok dan golongan dalam masyarakat secara yuridis formal mempunyai hak yang sama, maka sekarang tergantung pada tiap individu atau tiap kelompok dan golongan, siapa orang-orang yang secara prinsipil akan mencari dan menumbuhkan peluang bisnis. Apabila hal ini berjalan fair, maka prospek masa depan kewirausahaan Indonesia akan lebih baik dari keadaan sekarang.

4. Pengembangan kewirausahaan saat ini sangat dibutuhkan dalam rangka memperluas kesempatan kerja serta mempersiapkan keunggulan bersaing bangsa Indonesia pada era pasar global. Oleh karena itu perlu dibentuk inkubator bisnis pada setiap perguruan tinggi yang berfungsi untuk mengadopsi pengembangan kewirausahaan ke dalam proses belajar dan mengajar.

5. Perlu dikembangkan tim kerja, komitmen pimpinan, sinergi antar lembaga, baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bachruddin, Zaenal, Mudrajad Kuncoro, Budi Prasetyo Widyobroto, Tridjoko Wismu Murti, Zuprizal, Ismoyo. 1996. Kajian Pengembangan Pola Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK, Yogyakarta.

Dwi, Benedicta Prihatin. 2003. Kewirausahaan: Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Jakarta: Grasindo

Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Ed III. Jakarta: Salemba Empat

Soetrisno, Loekman. 1995. “Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Kemitraan: Suatu Tinjauan Sosiologis“, makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan, Hotel Radisson, Yogyakarta, 5 agustus.

Wiratmo, Masykur. 1996. Pengantar Kewiraswastaan: Kerangka Dasar Memasuki Dunia Bisnis, Ed I. Yogyakarta: BPFE

 

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 7, 2012 in Uncategorized

 

metode tafsir ta’wil dan tafsir

 

 

 

 

 

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

 

 

 

”TAFSIR DAN TA’WIL“

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

A. PENDAHULUAN

 

 

Tafsir  merupakan  hal  yang  tidak  asing  lagi  bagi  kita,  bahkan  di  Indonesia  sendir

kitab-kitab tafsir telah dikaji di banyak pondok pesantren, ini merupakan satu tanda bahwa

keilmuan tafsir dalan Negara kita cukup membanggakan, selain itu Tafsir sendir merupakan

salah satu cara diman kita bias memahami Al-Qur’an, keberadaan tafsir ini begitu popular

dimasyarakat mulai dari zaman Nabi saw sendiri dan sampai sekarang, maka ini merupakan

salah satu warisan ilmu yang perlu mendapatkan perhatian serius demi kemashlahatan umat

Islam dan perlu dikembangkan sesuai dengan tuntutan ilmu pengethuan dan teknologi zaman.

namun apakah sebenarnya tafsir itu? Untuk menjawab itu makalah ini disusun.

 

 

B. Rumusan masalah :

1. Apakah pengertian Tafsir itu?

2. Bagaimana sejarah perkembangan tafsir?

3. Apakah semua orang bias menafsirkan Al-Qur’an ?

4. Apakah ilmu yang mendukung dalam penafsiran ?

5. Apa beda tafsir dan ta’wil?

6. Kaidah apa yang digunakan Mufassir ?

 

 

C. Tujuan :

1.   kita dapat mengetahui pengertian tafsir dan ta’wil.

2.   untuk mempelajari perbedaan tafsir dan ta’wil.

3.   menjelaskan sejarah perkembangan tafsir dan ta’wil.

4.   menjelaskan dan menyebutkan macam-macam tafsir dan ta’wil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A. Pengertian Tafsir

Kata tafsir diambil dari kata fassara yufassiru tafsiiran( ﺮﻴــﺴﻔﺗ ) berasal dari kata ﺮَ ﺴﱠ ﻓَ

yang  berarti  keterangan  atau  uraian,  Al-jurjani  berpendapat  bahwa  kata  tafsir  menurut

pengertian bahasa al-kasyf wa al-izhar yang artinya menyingkap dan melahirkan .

 

 

Hal  ini  senada  dengan  pendapat  yang  mengatakan  bahwa  tafsir  adalah  menyingkapkan

maksud  dari  lafadz  yang  sulit  dalam  Al-Qur’an,  didalam  Al-Qur’an  disebutkan  tentang

makna tafsir :

ﺮﻴﺴۡﻔﺗ ﻦﺴۡﺣأو ﻖﺤۡﻟﭑﺑ ﻚٰـﻨۡﺌﺟ ﺎﱠإ ﻞﺜﻤﺑ ﻚﻧﻮﺗۡﺄﻳ ﺎﻟوا

Tidaklah   orang-orang   kafir   itu   datang   kepadamu   (membawa)   sesuatu   perumpamaan,

melainkan   Kami   datangkan   kepadamu   sesuatu   yang   benar   dan   yang   paling   baik

penjelasannya. (QS. 25:33)

Yang berarti keterangan dan perincian. Ibnu Abbas berkata tentang Firman Allah tersebut

diatas, makna lafadz tafsir diatas adalah perincian .

Jadi   tafsir   secara   bahasa   adalah   menyingkapkan,   menjelaskan,   menerangkan,

memberikan perincian atau menampakkan.

Adapun tafsir menurut istilah adalah terdapat banyak pendapat :

1.  Tafsir  menurut  Al-Kilab  Dalam  At-tashil  adalh  menjelaskan  Al-Qur’an,  menerangkan

maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash, isyarat atau tujuan.

2. Menurut Syaikh Al-Jazairi tafsir pada hakikatnya adalah menjelaskan kata yang sukar

dipahami oleh pendengar sehingga berusaha mengemukakan sinonimnya atau makna yang

mendekatinya atau dengan jalan mengemukakan salah satu dilalahnya.

3. Menurut Abu Hayyan tafsir adalah mengenai cara pengucapan kata-kata Al-Qur’an serta

cara mengungkapkan petunjuk, kandungan-kandungan hokum dan makna yang terkandung

didalamnya.

4. Menurut Al-Zarkasyi tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan

makna-makna   kitab   yang   diturunkan   kepada   Nabi-Nya,   Muhammad   SAW,   serta

menyimpulkan kandungan hokum dan hikmahnya .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.Pengertian Ta’wil

Secara  laughwi  (etimologis)  ta’wil  berasal  dari  kata  al-awl(لوّ أ  –  لوّ ﺆﻳ    ),  artinya

kembali; atau dari kata al ma’al  artinya tempat kembali; al- iyalah  yang berarti al –siyasah yang berarti mengatur.   Muhammad husaya al-dzahabi ,mengemukakan bahwa dalam pandangan ulama salaf (klasik), ta’wil memilki dua pengertian:

Pertama  :  penafsirkan  suatu  pembicaraan  teks  dan  menerangkan  maknanya,  tanpa

mempersoalkan apakah penafsiran dan keterangan itu sesuai dengan apa yang tersurat atau

tidak.

Kedua : ta’wil adalah substansi yang dimaksud dari sebuah pembicaraan itu sendiri

(nafs al- murad bi al-kalam). Jika pembicaraan itu berupa tuntutan , maka tak’wilnya adalah

perbuatan yang dituntut itu sendiri. Dan jika pembicaraan itu berbentuk berita. Maka yang

dimaksud adalah substansi dari suatu yang di informasikan.

Sedangkan pengertian Ta’wil, menurut sebagian ulama, sama dengan Tafsir. Namun

ulama yang lain membedakannya, bahwa ta’wil adalah mengalihkan makna sebuah lafazh

ayat  ke  makna  lain  yang  lebih  sesuai  karena  alasan  yang  dapat  diterima  oleh  akal  [As-

Suyuthi,  1979:  I,  173].  Sehubungan  dengan  itu,  Asy-Syathibi  [t.t.:  100]  mengharuskan

adanya dua syarat untuk melakukan penta’wilan, yaitu: (1) Makna yang dipilih sesuai dengan

hakekat kebenaran yang diakui oleh para ahli dalam bidangnya [tidak bertentangan dengan

syara’/akal sehat], (2) Makna yang dipilih sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab klasik

pada saat turunnya Alquran].

 

 

Secara Terminologi, Ulama Salaf mendefinisikan takwil sebagai berikut:

 

 

a.Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mutashfa

“Sesungguhnya takwil itu dalah ungkapan tentang pengambilan makna dari lafazh yang

bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna

yang ditujukan oleh lafazh zahir.”

 

 

 

 

b.Imam Al-Amudi dalam kitab Al-Mustasfa:

“Membawa makna lafazh zohir yang memunyai ihtimal (probabilitas) kepada makna lain

yang didukung dalil”.

Kaum muhadditsin mendefinisikan takwil, sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh

ulama ushul fiqh, yaitu:

Menurut Wahab Khalaf takwil yaitu “memalingkan lafazh dari zahirnya, karena adanya

dalil.”

Menurut Abu Zahra takwil adalah mengeluarkan lafazh dari artinya yang zahir kepada makna

yang lain, tetapi bukan zahirnya

 

 

Dari pengertian kedua istilah ini dapat disimpulkan, bahwa Tafsir adalah penjelasan

terhadap  makna  lahiriah  dari  ayat  Alquran  yang  penegrtiannya  secara  tegas  menyatakan

maksud yang dikehendaki oleh Allah; sedangkan ta’wil adalah pengertian yang tersirat yang

diistimbathkan dari ayat Alquran berdasarkan alasan-alasan tertentu.

 

 

Perbedaan antara tafsir dengan ta’wil

Tentang  perbedaan  tafsir  dan  ta’wil  ini     banyak  pendapat  ulama  yang  pendapat

tentang ini,dan pendapat ulama itu tidak sama dan bahkan ada yang jauh perbedaan satu sama

lain, maka dari itu bias kita simpulkan sebagai berikut:

Tafsir  lebih  banyak  digunakan  pada  lafas  dan  mufradat  sedangkan  takwil  lebih  banyak

digunakan pada jumlah dan makna-makna.

Tafsir apa yang bersangkutan paut dengan riwayah sedangkan ta’wil apa-apa yang

bersangkutan paut dengan dirayah.

Tafsir menjelaskan secara detail sedangkan ta’wil hanya menjelaskan secara global tentang

apa yang dimaksud dengan ayat itu.

Ta’wil  menjabarkan  kalimat-kalimat  dan  menjelaskan  maknanya  sedangkan  tafsir

menjelaskan secara dengan sunnah dan menyampaikan pendapat para sahabat dan para ulama

dalam penafsiran itu.

Tafsir menjelaskan lafas yang zahir ,adakalanya secara hakiki dan adakalanya secara majazi

sedangkan ta’wil menjelaskan lafas secara batin atau yang tersembunyi yang diambil dari

kabar orang orang yang sholeh.

 

 

 

 

Sejarah Perkembangan Tafsir

 

Pada saat Al-Quran diturunkan, Rasul saw., yang berfungsi sebagai mubayyin

(pemberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan

Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya.

Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya Rasul saw., walaupun harus diakui bahwa

penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat

tentangnya atau karena memang Rasul saw. sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-

Quran

Kalau pada masa Rasul saw. para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang

tidak jelas kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad,

khususnya mereka yang mempunyai kemampuan semacam ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu ‘Abbas,

Ubay bin Ka’ab, dan Ibnu Mas’ud.

Sementara sahabat ada pula yang menanyakan beberapa masalah, khususnya sejarah

nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh-tokoh Ahlul-Kitab

yang telah memeluk agama Islam, seperti ‘Abdullah bin Salam, Ka’ab Al-Ahbar, dan lain-

lain. Inilah yang merupakan benih lahirnya Israiliyat.

Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebutkan di atas

mempunyai murid-murid dari para tabi’in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal.

Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabi’in di kota-kota tersebut, seperti:

(a) Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itu berguru kepada Ibnu

‘Abbas;

(b) Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang ketika itu berguru kepada Ubay

bin Ka’ab; dan

(c) Al-Hasan Al-Bashriy, Amir Al-Sya’bi, di Irak, yang ketika itu berguru kepada ‘Abdullah

bin Mas’ud.

Gabungan dari tiga sumber di atas, yaitu penafsiran Rasul saw., penafsiran sahabat-

sahabat, serta penafsiran tabi’in, dikelompokkan menjadi satu kelompok yang dinamai Tafsir

bi Al-Ma’tsur. Dan masa ini dapat dijadikan periode pertama dari perkembangan tafsir.

Berlakunya periode pertama tersebut dengan berakhirnya masa tabi’in, sekitar tahun 150 H,

merupakan periode kedua dari sejarah perkembangan tafsir.

Pada periode kedua ini, hadis-hadis telah beredar sedemikian pesatnya, dan

bermunculanlah hadis-hadis palsu dan lemah di tengah-tengah masyarakat. Sementara itu

perubahan sosial semakin menonjol, dan timbullah beberapa persoalan yang belum pernah

terjadi atau dipersoalkan pada masa Nabi Muhammad saw., para sahabat, dan tabi’in.

Pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al-Quran berdasarkan ijtihad masih sangat

terbatas dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta arti-arti yang dikandung oleh satu

kosakata. Namun sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan

bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran,

sehingga bermunculanlah berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya.

Keragaman tersebut ditunjang pula oleh Al-Quran, yang keadaannya seperti dikatakan oleh

‘Abdullah Darraz dalam Al-Naba’Al-Azhim: “Bagaikan intan yang setiap sudutnya

memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain,

dan tidak mustahil jika anda mempersilakan orang lain memandangnya., maka ia akan

melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat.”

Muhammad Arkoun, seorang pemikir Aljazair kontemporer, menulis bahwa: “Al-

Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Kesan yang diberikan

oleh ayat-ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak.

Dengan demikian ayat selalu terbuka (untuk interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup

dalam interpretasi tunggal.”

 

 

Macam-macam tafsir berdasarkan sumbernya

 

Berdasarkan  sumber  penafsirannya,  tafsir  terbagi  kepada  dua  bagian:  Tafsir  Bil-

Ma’tsur dan Tafsir Bir-Ra’yi. Namun sebagian ulama ada yang menyebutkannya tiga bagian.

 

 

1. Tafsir Bilma’tsur adalah tafsir yang menggunakan Alquran dan/atau As-Sunnah

sebagai sumber penafsirannya.

2. Tafsir Bir-Ra’yi adalah Tafsir yang menggunakan rasio/akal sebagai sumber

penafsirannya.

3. Tafsir Bil Isyarah, Penafsiran Alquran dengan firasat atau kemampuan intuitif yang

biasanya dimiliki oleh tokoh-tokoh shufi, sehingga tafsir jenis ini sering juga

disebut sebagai tafsir shufi.

 

Macam-macam Tafsir berdasarkan corak penafsirannya

 

Corak penafsiran yang dimaksud dalam hal ini adalah bidang keilmuan yang

mewarnai suatu kitab tafsir. Hal ini terjadi karena mufassir memiliki latar belakang keilmuan

yang berbeda-beda, sehingga tafsir yang dihasilkannya pun memiliki corak sesuai dengan

disiplin ilmu yang dikuasainya.

 

Berdasarkan corakm penafsirannya, kitab-kitab tafsir terbagi kepada beberapa macam. Di

antara sebagai berikut:

 

 

1.   Tafsir Shufi/Isyari, corak penafsiran Ilmu Tashawwuf yang dari segi sumbernya

termasuk tafsir Isyariy.

2.   Tafsir Fiqhy, corak penafsiran yang lebih banyak menyoroti masalah-masalah

fiqih. Dari segi sumber penafsirannya, tafsir bercorak fiqhi ini termasuk tafsir

bilma’tsur.

3.  Tafsir Falsafi, yaitu tafsir yang dalam penjelasannya menggunakan pendekatan

filsafat, termasuk dalam hal ini adalah tafsir yang bercorak kajian Ilmu Kalam.

Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak falsafi ini termasuk tafsir bir-

Ra’yi.

4.  Tafsir Ilmiy, yaitu tafsir yang lebih menekankan pembahasannya dengan

pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan umum.  Dari segi sumber penafsirannya

tafsir bercorak ‘Ilmiy ini juga termasuk tafsir bir-Ra’yi.

5.   Tafsir al-Adab al-Ijtima’i, yaitu tafsir yang menekankan pembahasannya pada

masalah-masalah sosial kemasyara-katan. Dari segi sumber penafsirannya

tafsir bercorak al-Adab al-Ijtima’ ini termasuk tafsir bir-Ra’yi. Namun ada

juga sebagian ulama yang mengkategorikannya sebagai tafsir Bil-Izdiwaj

(tafsir campuran), karena prosentase atsar dan akal sebagai sumber penafsiran

dilihatnya seimbang.

 

Macam-macam Tafsir berdasarkan metodenya

1.  Metode Tahlily (metode Analisis)

Yaitu metode penafsiran ayat-ayat Alquran secara analitis dengan memaparkan segala

aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya sesuai dengan bidang keahlian

mufassir tersebut.

 

 

2.  Metode Ijmaly (metode Global)

Yaitu penafsiran Alquran secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar, tapi

mencakup makna yang dikehendaki dalam ayat.

 

 

 

 

 

3.  Metode Muqaran (metode Komparasi/Perbandingan)

Tafsir dengan metode muqaran adalah menafsirkan Alquran dengan cara mengambil

sejumlah ayat Alquran, kemudian mengemukakan pendapat para ulama tafsir dan

membandingkan kecendrungan para ulama tersebut, kemudian mengambil kesimpulan dari

hasil perbandingannya [al-‘Aridh, 1992: 75].

4.  Metode Maudhu’i (metode Tematik)

Yaitu metode yang ditempuh oleh seorang mufassir untuk menjelaskan konsep

Alquran tentang suatu masalah/tema tertentu dengan cara menghimpun seluruh ayat Alquran

yang membicarakan tema tersebut

Macam-macam ta’wil

1)  Ta’wil yang jauh dari pemahaman, yakni ta’wil yang dalam penetapannya tidak

mempunyai dalil yang terendah sekalipun.

2)  Ta’wil yang mempunyai relevasi, paling tidak memenuhi standar makna terendah

serta diduga sebagai makna yang benar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Menjadi  keharusan  bagi  mufasir  untuk  mempertimbangkan,  dalam  setiap  upaya

pendekatan ilmiahnya terhadap Al-Qur’an, fakta bahwa nash Al-Qur’an adalah sabda Tuhan

(Muhammad Abu

Musa: Min Asrâr al-Ta’bir al-Qur’aniy). Upaya penafsiran atau pendekatan ilmiah apapun

terhadap   Al-   Qur’an   selalin   menuntut   kompetensi   intelektual   para   pelakunya   juga

mengundang ketawadluan mentalitas dan spiritualitas penafsir.

Keagungan Allah SWT, tujuan-tujuan syariat dan hikmah serta kemutlakan ilmu-Nya

senantiasa  mengiringi  dan  menyinari  proses  penakwilan  agar  tidak  terperosok  ke  dalam

jebakan filsafat positivisme yang menyampingkan dimensi metafisik teks kitab suci dalam

petualangan untuk profanisasi kitab suci yang sakral.

Umat Islam sudah waktunya untuk kembali kepada ajaran-ajaran Rasulullah Saw dan

teladan para sahabat dan para tabi’in dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Dengan

mengembalikan  tujuan  penafsiran  pada  jalur  yang  benar  bukan  berdasarkan  keegoan

intelektual semata. Umat Islam harus berani untuk menujukkan jati dirinya dengan segala

pemikiran-pemikiran  dan  amal  perbuatannya  yang  tetap  konsisten  terhadap  aturan  Sang

Pencipta dan Rasul-Nya dalam menyikapi pemahaman dan pengamalan atas Al-Qur’an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dr. Hamdani Anwar.1995. Pengantar Ilmu Tafsir (bagian Ulumul Quran). Jakarta: Fikahati

Aneska

Drs. Ramli Abdul Wahid. 1994.UlumulQuran. Jakarta: Rajawali.

 

 

 

 

Dr. Nashruddin Baidan. 1998.Metodologi Penafsiran Alquran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 1, 2012 in Uncategorized

 

PENGADAAN ALAT TAEKWONDO

PROPOSAL

 

PENGADAAN ALAT TAEKWONDO

UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM)

UNSIQ TAEKWONDO CLUB (UTC)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM)

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ )

JAWA TENGAH DI WONOSOBO

2012

 

 

 

 

UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM)

UNSIQ 2012

UNSIQ TAEKWONDO CLUB (UTC)

Sekerteriat :Gedung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNSIQ

di Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah

  1. I.          LANDASAN PEMIKIRAN

Tae kwon-do merupakan salah satu cabang seni olahraga bela diri yang berasal dari Korea Selatan. Makna dari Taekwondo mempunyai arti yaitu Tae = kaki, Kwon = pukulan dengan tangan/tinju, Do = sistem/cara/seni. Arti kesuluruhan Taekwondo adalah seni beladiri yang menggunakan kaki dan tangan sebagai senjata beladiri untuk menaklukan lawannya. Pada saat Korea merdeka pada tahun 1945 rakyat Korea berusaha mengembangkan Taekwondo yang merupakan seni bela diri tradisional Korea, sehingga Taekwondo diterima dan berkembang pesat diseluruh dunia.

Tae Kwon-do sebagai cabang olah raga resmi di arena PON Ke XI tahun 1985 diselenggarakan di Jakarta. Tae kwon-do dipertandingkan di olimpiade tahun 1992 di Barcelona Spanyol sifatnya ekchibisi dan resminya sendiri pertama kalinya pada olimpiade di Atlanta AS tahun 1996. Indonesia turut ambil bagian dalam pertandingan eksebisi, dan membawa pulang 4 buah medali, 3 perak, 1 perunggu.

Semangat inilah yang menjadi pendorong untuk mengadakan kegiatan taekwondo di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) di Wonosobo Jawa Tengah. Melihat jaman sekarang sering kali terjadi kekerasan fisik, misalnya kekerasan pada perempuan, bahkan kejahatan yang dilakukan pada preman atau orang jahat yang merugikan masyarakat. Maka dari itu untuk mengantisipasi adanya kekerasan fisik kita dianjurkan berlatih taekwondo untuk melindungi diri ataupun melindungi orang lain. Dari hal tersebut UKM UNSIQ Taekwondo Club diadakan.

Kegiatan bela diri taekwondo ini memerlukan adanya alat untuk memperlancar dalam latihan, memberikan semangat berlatih, dan untuk menunjang prestasi mahasiswa dalam bidang olahraga. Namun, yang terjadi di UNSIQ Taekwondo Club (UTC) masih kekurangan alat atau fasilitas yang memadai untuk berlatih. Oleh karena itu, untuk menambah minat dan semangat berlatih, perlu adanya stimulus agar mahasiswa punya gairah dalam berlatih Taekwondo salah satunya yaitu dengan lengkapnya alat dan fasilitas yang memadai.

Melihat mahasiswa yang antusias terhadap kegiatan UKM UTC sangat tinggi, dengan adanya fasilitas alat-alat berlatih taekwondo yang memadai diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk meraih prestasi dalam bidang olahraga serta bisa melindungi diri maupun orang lain dari serangan kejahatan fisik.

 

  1. II.          ESTIMASI DANA

Berdasarkan latar belakang sebagai mana diatas, yang menunjukkan antusiasme mahasiswa yang sangat tinggi terhadap kegiatan taekwondo yang dilakukan oleh UKM UTC. Maka UTC akan melakukan pengadaan alat-alat berlatih taekwondo di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo di Jawa Tengah. Alat-alat barlatih taekwondo yang dibutuhkan antara lain:

Kategori peralatan

NO SPESIFIKASI ALAT JUMLAH ANGGARAN
1 Pelindung kepala 2 buah Rp. 1.500.000 x 2 = 3.000.000
2 Body protektor 2 pasang Rp. 300.000 x 2 =  600.000
3 Pelindung tangan 3 pasang Rp. 100.000 x 3 = 300.000
4 Pelindung kaki 3 pasang Rp. 100.000 x 3 = 300.000
5 Kaos tangan 2 pasang Rp. 150.000 x 2 = 300.000
6 Pelindung alat vital 2 buah Rp. 100.000 x 2 = 200.000
7 Pacing pad 4 buah Rp. 75.000 x 4 = 300.000
8 Lain-lain   Rp. 100.000
  Jumlah   Rp. 5.100.000

 

 

  1. III.          TEMA KEGIATAN

”Olahraga Membentuk Pribadi Tangguh, Berbudaya Sehat dan Berprestasi”

 

  1. IV.          WAKTU PELAKSANAAN

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UNSIQ Taekwondo Club (UTC) bermaksud mengadakan latihan rutin bela diri taekwondo di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) di Wonosobo Jawa Tengah. Adapun latihan rutin taekwondo tersebut kami laksanakan pada setiap:

Hari                 : Senin dan Sabtu

Waktu             : 14.30 – 17.00 Wib

Tempat            : Aula Al-A’la UNSIQ

 

  1. V.          SUMBER DONATUR

Berdasrkan rencana pengadaan alat berlatih taekwondo tersebut, kami bermaksud memohon bantuan dari donatur dari pikak Badan Eksekutif Mahasiswa yang akan disampaikan kepada Rektorat UNSIQ, baik berupa alat berlatih atau materi demi kesuksesan latihan taekwondo di UNSIQ.

 

  1. VI.          TUJUAN DAN TARGET

–            Tujuan rencana pengadaan alat berlatih taekwondo di UNSIQ, mempunyai tujuan untuk meningkatkan minat berlatih taekwondo. Dengan minat berlatih yang tinggi, maka mendapatkan kesehatan yang kemudian berujung pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

–            Target yang ingin dicapai dalam pengadaan alat berlatih taekwondo oleh UKM UTC ini adalah:

  1. Menghidupkan budaya mahasiswa yang sehat.
  2. Minat berlatih semakin meningkat.
  3. Prestasi mahasiswa dalam bidang olahraga semakin meningkat.
  4. Dapat melindungi diri dan orang lain dari serangan kejahatan fisik.

 

 

  1. VII.          PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat, sebagai acuan pelaksanaan program ”pengadaan alat berlatih taekwondo di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) di Wonosobo Jawa Tengah. Atas partisipasi dan bantuan dari semua pihak, kami hayurkan terimakasih.

 

Wonosobo, 23 Mei 2012

 

PANITIA PENGADAAN PERALATAN LATIHAN TAEKWONDO

Koordinator UTC

 

 

 

DHIYANTI

Sekretaris

 

 

 

RISKA REONIKA

 

Mengetahui,

Presiden BEM

 

 

 

 

YUDIONO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUSUNAN PANITIA

PENGADAAN FASILITAS PERALATAN TAEKWONDO

 UNSIQ TAEKWONDO CLUB WONOSOBO

 

Pelindung                     : Dwi Yanto

Pembimbing                 : Muhammad Khusna

Ketua                           : Dhiyanti

Sekretaris                     : Riska Reonika

Bendahara                   : Akbar

 

Anggota:

  1. Imanudin
  2. Ismafika Ratu Firdaus
  3. Khafi Nur Sa’adah
  4. Hailatur Rosyidah
  5. Laela Zulfia
  6. Nurul Pratiwi
  7. Mada Nerfani
  8. Raif Mahardika Rifani
  9. Dhelia Sukma B
  10. Amanda Azalia P

 

  1. Erga Putra R
  2. M. Nuha Assegaf
  3. Eko Setiawan
  4. Hendrik Hidayat
  5. Husain Salim
  6. Khasan Wasono
  7. Syabana A.Z
  8. Adi
  9. Hestu Asiko
  10. Septiana Rahayu
  11. Trusiantik

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2012 in Uncategorized

 

Tugas Makalah Bahasa Indonesia

Tugas Makalah Bahasa Indonesia II

April 1, 2012

MAKALAH BAHASA INDONESIA II

PEMANFAATAN KOMPUTER DALAM BIDANG PERBANKAN, TRANSPORTASI, PENDIDIKAN, KOMUNIKASI dan TEKNOLOGI INFORMASI

 

Disusun oleh :

  1. Adrin Pratama
  2. Anissa Dahliyanti
  3. Bobby Afif
  4. Fikriyah Rahayuni
  5. Nita Arsianty

 

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

2012

 

PEMANFAATAN KOMPUTER DALAM BIDANG PERBANKAN, TRANSPORTASI, PENDIDIKAN, KOMUNIKASI dan TEKNOLOGI INFORMASI

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komputer telah berperan di masyarakat. Komputer sebenarnya tidak berbeda dengan produk tekhnologi lainnya seperti kereta api, pesawat terbang, mobil televisi dan lain sebagainya. Hal ini berlaku di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Hal yang membedakan komputer dengan produk lainnya adalah kemampuannya untuk dapat diprogram guna melaksanakan berbagai macam tugas dengan kecepatan dan ketelitian yang akurat.

Penggunaan komputer di bidang perbankan , transportasi, pendidikan, komunikasi dan teknologi informasi berkembang pesat. Pada dunia perbankan sangat penting untuk  kegiatan transaksi baik rutin, periodik, maupun insidentil dan menyediakan informasi dengan cepat dan tepat. Pada dunia pendidikan termasuk di Indonesia, komputer sudah diperkenalkan dan digunakan pada sekolah-sekolah dari pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Penggunaan komputer di bidang transportasi, misalnya komputer yang digunakan untuk mengatur lampu lalu lintas dan dalam bidang komunikasi dan teknologi infomasi, komputer bisa melakukan data teks, gambar, video, suara, bahkan komunikasi audiovisual secara langsung dengan menggunakan internet.

1.2 Batasan Masalah

Artikel ini lebih fokus pada penyebaran informasi atau berita mengenai prediksi masa depan penggunaan komputer dan dampaknya terhadap tenaga kerja.

1.3 Tujuan

Penulisan Artikel ini bertujuan untuk memprediksikan penggunaan computer dalam empat bidang kegiatan dan bagaimana dampaknya terhadap tenaga kerja dalam 4 bidang kegiatan tersebut.

 

 

 

 

II. ISI

  1. 1.       Pemanfaatan Komputer di Bidang Perbankan

Dalam dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui Internet Banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindah bukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening. Di kota-kota besar, kita dapat memastikan kebanyakan orang telah mempunyai rekening di bank. Rekening yang bisa berupa tabungan, rekening koran, giro, ataupun deposito. Tapi melakukan transaksi di kantor bank terkadang memakan waktu cukup lama terutama harus antri menunggu giliran. Tidak jarang karena kesal dan tidak sabar menunggu dilayani sehingga memanfaatkan cara lain yaitu seperti menggunakan ATM (anjungan tunai mandiri) bank yang tersebar di beberapa tempat. Namun terkadang seseorang bisa bertambah kesal karena di depan ATM ternyata terdapat barisan orang yang mengantri pula.

Memanfaatkan internet sebagai salah satu jalur transaksi perbankan yang lebih mudah diakses dimanapun seperti di rumah atau kantor dan juga kapanpun selama 24 jam satu minggu penuh. Internet banking yang juga dikenal dengan istilah online banking ini menurut situs wikipedia adalah melakukan transaksi, pembayaran, dan transaksi lainnya melalui internet dengan website milik bank yang dilengkapi sistem keamanan.

Bagi sebagian orang, internet banking sangat membantu karena bisa melakukan transaksi perbankan di luar jam kerja bank yang sering pendek. Hanya membutuhkan koneksi internet dan web browser seperti Internet Explorer. Sama sekali tidak memerlukan perangkat lunak atau perangkat keras secara khusus. Jumlah konsumen perbankan yang memilih internet banking sebagai cara yang paling disukai untuk menangani keuangannya dewasa ini berkembang dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan mereka menyukai berbagai kemudahan dan fitur yang tersedia dalam internet banking.

Internet banking biasanya menyediakan fitur pembayaran berbagai rekening baik listrik, telepon, kartu kredit dan sebagainya secara online. Selain itu, setiap saat para konsumen bisa memeriksa dan mengunduh daftar transaksi keuangan mereka atau jumlah simpanan secara online. Di Indonesia, internet banking telah diperkenalkan pada konsumen perbankan sejak beberapa tahun lalu. Beberapa bank besar baik BUMN atau swasta Indonesia yang menyediakan layanan tersebut antara lain BCA, Bank Mandiri, Lippo Bank, Permata Bank dan sebagainya.

Mungkin ada orang yang ragu menggunakan internet banking lantaran cemas pada sistem keamanan internet yang sering dibobol oleh hacker atau cracker. Terutama sistem keamanan dengan otorisasi password yang sudah cukup aman bagi kebanyakan situs belanja online ternyata belum dianggap aman bagi internet banking di beberapa negara. Beberapa bank melengkapi sistem keamanan internet banking dengan sistem tambahan seperti enkripsi dan penggunaan password ganda yang salah satunya selalu berubah-rubah setiap melakukan transaksi perbankan online.

Sistem password ganda itulah yang diadopsi beberapa bank di Indonesia untuk melindungi konsumen internet banking-nya seperti sistem KeyBCA yang digunakan BCA. Pelanggan bank tersebut setiap ingin melakukan transaksi perbankan lewat internet banking tidak hanya harus menggunakan PIN (personal identification number) sebagai password, namun juga harus menggunakan KeyBCA, semacam kalkulator elektronik untuk mengeluarkan password yang selalu berbeda untuk mengotorisasi transaksi tersebut.

Ada beberapa strategi lainnya untuk melindungi internet banking seperti menggunakan pembaca kartu chip bank konsumen yang bisa mengeluarkan password yang hanya bisa dikenali kartu tersebut. Cara lain yaitu sertifikat digital yang dapat mengotorisasi transaksi perbankan online dengan menghubungkannya pada peralatan fisik milik konsumen seperti komputer atau ponsel. Memang sistem keamanan internet banking tidak pernah 100% aman, namun penelitian menunjukkan perbankan konvensional justru lebih rentan pada penipuan keuangan daripada internet banking.

  1. 2.       Pemanfaatan Komputer di Bidang Transportasi

Penggunaan komputer di bidang transportasi, misalnya komputer yang digunakan untuk mengatur lampu lalu lintas. Di Negara maju lainnya banyak kereta yang sudah dipasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem komputer. Jalan raya juga dipasang dengan berbagai jenis sensor yang akan memberikan pesan kepada komputer pusat untuk memudahkan pengendalian jalan raya tertentu. Selain itu, dengan komputer semua jalur penerbangan di Bandara bisa di program dengan komputer. Untuk menerbangkan pesawat itu sendiri membutuhkan dan harus dilengkapi dengan komputer. Bahkan diketinggian tertentu pesawat dapat di terbangkan dengan otomatis dengan pilot otomatis yang sudah diprogram oleh komputer. Demikian juga penjualan tiket di terminal , bandara, dan stasiun yang dapat dilayani dengan cepat menggunakan komputer.

Contoh aplikasi penggunaan komputer di bidang transportasi antara lain adalah jalur penerbangan di bandara bisa di program dengan komputer. Untuk menerbangkan pesawat itu sendiri membutuhkan dan harus dilengkapi dengan komputer. Bahkan diketinggian tertentu pesawat dapat di terbangkan dengan otomatis dengan pilot otomatis yang sudah diprogram oleh komputer.

Demikian juga penjualan tiket di terminal , bandara, dan stasiun yang dapat dilayani dengan cepat menggunakan komputer. Banyak negara maju lainnyayang sudah memasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem komputer di kereta. Salah satu negara yang sudah memasang alat navigasi modern untuk menggantikan masinis melalui penggunaan satelit dan sistem komputer di kereta adalah negara Jepang.

 

  1. 3.        Pemanfaatan Komputer di Bidang Pendidikan

Dalam dunia pendidikan teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Pada dunia pendidikan termasuk di Indonesia, komputer sudah diperkenalkan dan digunakan pada sekolah-sekolah dari pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Bahkan untuk pendidikan di kota-kota besar komputer sudah diperkenalkan sejak anak-anak masuk taman kanak-kanak atau play group untuk bermain atau games. Selain diigunakan sebagai alat bantu untuk pembelajaran yang interaktif, juga bisa bersifat audiovisual untuk memudahkan proses pembelajaran itu sendiri.

Komputer juga memberi kemudahan dalam mencari dan menghasilkan bahan-bahan pembelajaran secara efektif dan efisien yaitu dengan adanya perpustakaan elektronik (e-library). Selain itu banyak peralatan laboratorium yang dilengkapi dengan komputer sehingga alat tersebut dapat bekerja lebih teliti dan presisi, serta dapat mengatasi kendala hambatan indra manusia, dan bisa digunakan sebagai simulasi.

Menurut pendapat Robert Taylor , peranan komputer dalam pendidikan dibagi menjadi 3 bagian yaitu  TUTOR, TOOL dan TUTEE. Sebagai TUTOR, komputer berperanan sebagai pengajar melalui pendekatan pengajaran berbantukan komputer. Penggunaan komputer sebagai alat pembelajaran dikenali sebagai CBE (Computer Based Education). Sebagai TOOL, komputer menjadi alat untuk memudahkan proses pengajaran dan pembelajaran seperti konteks pengajaran berintergrasikan komputer. Komputer juga dugunakan untuk melakukan pengolahan data proses pembelajaran, seperti pengolahan data nilai siswa, penjadwalan, beasiswa, dan sebagainya. Sebagai TUTEE komputer berperanan sebagai alat yang diajar, dan bisa melakukan Tanya jawab atau dialog dengan komputer yang biasa disebut dengan CAI (Computer Assist Instruction).

Salah satu peranan TIK dalam dunia pendidikan saat ini adalah dengan munculnya E-Learning (Pembelajaran Elektronik). Kemampuan internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.

E-Learning merupakan dasar dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program pembelajaran atau program pendidikan.

Dengan demikian e-learning dapat mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya pendidikan untuk belajar menjadi lebih ekonomis. E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

 

  1. 4.       Pemanfaatan Komputer di Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi

Dengan adanya komunikasi jaringan global pada komputer yang biasa disebut dengan internet (inter networking) saat ini, rasanya manusia yang menggunakan internet seolah bisa “menggengam dunia”. Segala sesuatu yang dibutuhkan tersedia pada internet baik yang gratis maupun membayar. Dengan internet manusia bisa melakukan komunikasi data teks, gambar, video, suara, bahkan komunikasi audiovisual secara langsung.

Pengguna internet bisa mencari informasi apa saja yang dibutuhkan misalnya ; informasi berita, sekolah, buku dan perpustakaan, kencan dan perjodohan, belanja atau pembayaran on-line, chatting, memutar radio, video, musik, bermain games,saling menukar informasi dan data (mail), konsultasi dan Tanya jawab, pooling, periklanan, dan bahkan merusak komputer orang lain dari jarak jauh, pesan kamar hotel, tiket pesawat, dan sebagainya.

Pernyataan Tentang Penggunaan Komputer Pada Masyarakat Indonesia

Perkembangan Teknologi Informasi adalah sesuatu yang menggembirakan. Namun perkembangan rupanya tidak lepas dari cacat yang melekat pada manusia, dan pada segala sesuatu yang keluar dari buah tangannya, terutama dalam soal pendidikan di perguruan tinggi. Cacat tersebut membuat saya tertarik untuk merefleksikan dampak multidimensional dari penggunaan TI yang canggih di dalam proses pembelajaran. Pertanyaan yang akan coba dijawab di dalam tulisan singkat ini adalah, bagaimana bentuk teknologi informasi, dalam hal ini TI, yang baik, yang mampu membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan kemiskinan, serta sungguh efektif memberdayakan bangsa di dalam proses pendidikan.

Dampak Positif Penggunaan Teknologi Informasi

Seiring dengan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, para pelaku IT mulai gencar memanfaatkan kemajuan tersebut. Khususnya dalam bidang Teknologi Informasi, para pelaku IT dapat memperoleh kemudahan dalam setiap urusannya. Teknologi Informasi dapat didefinisikan sebagai suatu teknologi yang berfungsi untuk menghasilkan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan informasi tersebut dengan berbagai bentuk media dan format (image, suara, text, motion pictures, dsb). Dampak Teknologi Informasi tersebut terbagi atas 2, yaitu dampak positif dan dampak negatif.

Setelah dirasakan bahwa teknologi Informasi dapat menggantikan cara konvensional yang memberikan benefit, maka orang mulai melihat kelebihan lainnnya, misalnya menggantikan sarana pengiriman surat dengan surat eletronik (e-mail), pencarian data melalui search engine, chatting, mendengarkan musik, dan sebagainya dimana pada tahapan ini orang sudah mulai menginvestasikan kepada perangkat komputer. Manfaat yang didapatkan, teknologi informasi mulai digunakan dan diterapkan untuk membantu operasional dalam proses bisnis.

 

 

Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi

Salah satu penelitian yang di lakukan di Universitas Tohoku Jepang menunjukan bahwa jika anak-anak dijejali aneka permainan komputer, maka lama-kelamaan akan terjadi kerusakan di sebagian otaknya (masih mau main game berlama-lama lagi?). Atau seperti kejadian di Thailand di mana seorang gadis remaja gantung diri karena frustasi tidak dapat menyelesaikan permaian bomber man.

Di bidang perbankan, lebih mengkhawatirkan lagi penggunaan kartu kredit illegal (carding).  Belum lagi perseteruan antara pembuat virus dan antivirus yang tidak pernah berhenti sepanjang masa.

Fenomena seperti ini adalah sebagian kecil contoh yang dekat dengan kehidupan kita. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita harus menyikapi? Apakah kita berdiam diri? Atau ikut terlibat dalam perkembangan teknologi informasi? Dampak positif dan negative dari suatu perkembangan teknologi adalah pilihan di tangan kita. Selain keuntungan yang dapat diperoleh, penggunana teknologi informasi di beberapa perpustakaan dapat menimbulkan masalah seperti:

a.      Penggunaan komputer yang bertujuan untuk memperingan dan mempercepat pekerjaan, di sisi lain bisa menimbulkan pengangguran, karena beban pekerjaan semakin berkurang dengan adanya komputer.

b.      Adanya kemungkinan penyalahgunaan data untuk kepentingan pribadi. Kemudahan pengelolaan informasi dalam bentuk pangkalan data memberi peluang untuk memindahkan data yang tadinya milik pribadi atau rahasia dapat diakses oleh orang lain.

c.       Perlindungan terhadap hak cipta seseorang sulit diwujudkan. Sebuah karya atau kumpulan data dapat dengan mudah dikopi dan dimiliki oleh orang lain tanpa seizin pemilik informasi tersebut. Terlebih jika tujuannya digunakan untuk mencari keuntungan pribadi.

d.      Ketergantungan pada komputer menimbulkan kelemahan bila listrik mati atau komputer terserang virus, maka data tidak dapat diakses.

e.      Ketidakmampuan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi dapat menimbulkan kendala dan memunculkan anggapan bahwa teknologi justru menghambat pekerjaan.

Prediksi Masa Depan Penggunaan Komputer Dan Dampaknya Terhadap Tenaga Kerja

Seperti dikutip dari BBC, seorang ilmuwan dari Institute for Computing in the Humanities, University of Illinois, Amerika Serikat (AS), Kalev Leetaru, mengemukakan bahwa sebuah komputer super yang dibekali dengan berjuta-juta informasi mampu memprediksi kejadian-kejadian besar di masa mendatang.

Komputer itu mampu mengenali gejala-gejala awal yang bermuara pada revolusi di Libya dan Mesir baru-baru ini. Selain itu, komputer maha canggih itu tak kesulitan menangkap tanda-tanda keberadaan almarhum Osama bin Laden, buronan teroris nomor satu AS.

III. KESIMPULAN

Manfaat komputer dengan beragam cara mulai sebagai alat bantu menulis, menggambar, mengedit foto, memutar video, memutar lagu sampai analisis data hasil penelitian maupun untuk mengoperasikan program-program penyelesaian problem-problem ilmiah, bisnis, bahkan mengendalikan pesawat ruang angkasa. Penggunaan komputer untuk mencari informasi di bidang Perbankan, Transportasi, Pendidikan, Komunikasi Dan Teknologi Informasi data yang diperoleh informasi yang cepat, akurat, informatif dan efisien.

Seperti dikutip dari BBC, seorang ilmuwan dari Institute for Computing in the Humanities, University of Illinois, Amerika Serikat (AS), Kalev Leetaru, mengemukakan bahwa sebuah komputer super yang dibekali dengan berjuta-juta informasi mampu memprediksi kejadian-kejadian besar di masa mendatang. Teknologi Informasi dapat didefinisikan sebagai suatu teknologi yang berfungsi untuk menghasilkan, menyimpan, mengolah, dan menyebarkan informasi tersebut dengan berbagai bentuk media.

Dampak Teknologi Informasi tersebut terbagi atas 2, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Manfaat yang didapatkan, teknologi informasi mulai digunakan dan diterapkan untuk membantu operasional dalam proses bisnis. Dampak negative, penggunaan komputer yang bertujuan untuk memperingan dan mempercepat pekerjaan, di sisi lain bisa menimbulkan pengangguran, karena beban pekerjaan semakin berkurang dengan adanya komputer.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2012 in Uncategorized

 

TIGA PROBLEMA HUKUM DALAM TRANSAKSI BISNIS INTERNASIONAL DI ERA GLOBALISASI EKONOMI

TIGA PROBLEMA HUKUM DALAM TRANSAKSI BISNIS INTERNASIONAL DI ERA GLOBALISASI EKONOMI

 

Abstrak

There are three legal problems in relation to activities of international business transaction namely jurisdiction or competency of a certain court, choice of law, and implementation of the verdict of foreign court. The three problems may be caused by legal system differences amongst businesses country in addtition to certain political reasons of developed country to insist on developing country in acceptance of their main arrangements and rules of trading for their benefit.

            This trend of international transaction seems to provoke an emerging thought that views trading liberalization as a neo-imperialism in its new format upon developing country. Dilemma of developing country is in one hand when they fight to globalization stream it means that they will be alienated or isolated, in other hand when they follow the globalization stream it means that they accept risk of asymmetry in trading causingof economy disaster for developing country. The catastrophe face by developing country is caused by legal, political, and economy infrastructures are unready yet to deal with globalization.

Ada tiga problema hukum terkait dengan kegiatan transaksi perdagangan internasional yaitu masalah kompetensi lembaga hukum yang berwenang atau yurisdiksi, masalah hukum mana yang akan dipilih, dan masalah implementasi atau pelaksanaan putusan pengadilan asing. Ketiga masalah tersebut bisa terjadi akibat adanya perbedaan sistem hukum dari negara para pelaku bisnis disamping juga alasan-alasan politik tertentu dari negara-negara maju untuk memaksa negara-negara berkembang menerima begitu saja aturan-aturan main dalam transaksi bisnis internasional yang menguntungkan mereka.

Kecenderungan inilah tampaknya yang mendorong munculnya penilaian bahwa liberalisasi perdagangan tidak lebih merupakan bentuk penjajahan baru negara-negara maju atas negara-negara berkembang. Dilema bagi negara berkembang ialah jika melawan arus globalisasi perdagangan risikonya adalah terasing atau terkucilkan, sedangkan juga mengikuti arus globalisasi berarti menghadapi masalah ketimpangan perdagangan yang akan menciptakan malapetaka ekonomi bagi negara-negara berkembang. Malapetaka terjadi karena negara berkembang secara infrastruktur hukum, politis dan ekonomis sangat tidak siap menghadapi globalisasi.

 

A. Pendahuluan

Transaksi bisnis internasional pada dasarnya adalah transaksi yang berkaitan dengan kegiatan komersial yang melintas batas negara yang dilakukan oleh individu atau perusahaan yang berasal dari dua atau lebih sistem hukum yang berbeda. Adanya perbedaan sistem hukum tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan kewarganegaraan individu atau juga perbedaan kebangsaan perusahaan atau badan hukum yang melakukan transaksi tersebut. Transaksi bisnis ini merupakan bagian dari hukum perdata internasional (private international law). Ada tiga problema hukum yang harus dicermati dan diantisipasi baik oleh pelaku bisnis internasional sendiri, notaris, maupun para penegak hukum seperti pengacara dan hakim. Tiga persoalan pokok tersebut adalah:1

  1. Lembaga mana yang memiliki kewenangan (kompetensi atau yurisdiksi) jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak yang mengadakan transaksi;
  2. Hukum yang diberlakukan terhadap transaksi bisnis internasional; dan
  3. Pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan asing.

 

B. Yurisdiksi Pengadilan dan Arbitrase

Yurisdiksi pengadilan di dalam HPI merupakan kekuasaan dan kewenangan pengadilan untuk memeriksa dan menentukan suatu permasalahan yang dimintakan kepadanya untuk diputuskan dalam setiap kasus yang melibatkan paling tidak satu elemen hukum asing yang relevan.

Untuk menjalankan yurisdiksi yang diakui secara internasional, pengadilan suatu negara (propinsi atau negara bagian dalam sistem hukum negara federal) harus mempunyai kaitan tertentu dengan para pihak atau harta kekayaan yang dipersengketakan.

Di dalam sistem common law, terdapat beberapa kategori yurisdiksi pengadilan. Jika suatu gugatan berkaitan dengan hak-hak atau kepentingan-kepentingan semua orang mengenai suatu hal atau benda, pengadilan dapat secara langsung menjalankan kekuasaannya terhadap suatu hal atau benda tersebut meskipun pengadilan mungkin tidak mempunyai yurisdiksi terhadap orang-orang yang dan kepentingannya tersebut terpengaruh. Yurisdiksi pengadilan semacam ini disebut yurisdiksi in rem.2 Tujuan utama gugatan dalam in rem adalah memenangkan gugatan mengenai res (benda).3 Yurisdiksi pengadilan didasarkan pada lokasi atau tempat objek yang terletak di dalam wilayah yang akan diberlakukan yurisdiksi.4

Jika gugatan dimaksudkan untuk meminta tanggung jawab seseorang atau membebankan kewajiban terhadap seseorang, pengadilan memberlakukan yurisdiksi in personam dan gugatan tersebut merupakan gugatan in personam.5

Di dalam Hukum Acara Perdata yang berlaku dewasa ini di Indonesia yang pengaturannya terdapat Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) dan Rechtsreglement Buitengewesten (Rbg) tidak terdapat ketentuan khusus mengenai kompetensi pengadilan (yurisdiksi) pengadilan Indonesia dalam mengadili perkara-perkara perdata yang mengandung elemen asing.

Menurut Pasal 118 ayat (1) HIR, tuntutan atau gugatan perdata diajukan kepada pengadilan negeri di tempat terguggat bertempat tinggal (woonplaats) atau jika tidak diketahui tempat tingalnya, tempat sebenarnya ia berada (werkelijk verbliff).

Kemudian jika tergugat lebih dari satu orang dan mereka tidak tinggal dalam satu wilayah suatu pengadilan negeri, menurut pasal 118 HIR, gugatan diajukan kepada pengadilan negeri di tempat salah seorang bertempat tinggal.

Menurut Sudargo Gautama, ketentuan penting yang ada hubungannya dengan perkara yang bersifat HPI terdapat dalam pasal 118 ayat (3) HIR.6 Jika tergugat tidak mempunyai tempat tinggal yang dikenal dan juga tempat tinggal sebenarnya tidak dikenal, maka gugatan diajukan kepada pengadilan negeri di tempat penggugat (forum actoris). Kemudian apabila gugatan tersebut berkaitan dengan benda tidak bergerak (benda tetap), gugatan diajukan kepada pengadilan negeri di mana benda tetap itu terletak (forum rei sitae).

Di dalam Pasal 118 ayat (4) terdapat ketentuan yang menegaskan bahwa jika terdapat pilihan domisili, gugatan diajukan kepada pengadilan negeri yang telah dipilih tersebut.

Di dalam yurisprudensi Indonesia sering ditemukan perkara-perkara dimana tergugat tidak mempunyai tempat kediaman yang dikenal di Indonesia, sehingga prosedur khusus telah dilakukan.7

Berkenaan dengan hal ini bisa dikaji ketentuan yang terdapat dalam Pasal 6 sub 8 Reglement op de Burgerlijk Rechtsverordering (RV)8 mengenai Dagvaarding yang harus disampaikan kepada pihak tergugat yang bertempat tinggal di luar Indonesia sepanjang mereka tidak mempunyai tempat kediaman yang dikenal di Indonesia. Tuntutan diserahkan kepada pejabat kejaksaan kepada tempat pengadilan dimana seharusnya perkara diajukan. Pejabat ini membubuhkan kata-kata geizen dan menandatanganinya serta menyerahkan salinan ekspolit untuk yang bersangkutan kepada pemerintah Indonesia untuk dikirim.9

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa prinsip penyampaian gugatan harus dilakukan di tempat tinggal pihak tergugat. Kewenangan mengadili pertama-tama didasarkan pada asas the basis of presence, yakni pada umumnya yurisdiksi suatu negara diakui meliputi secara teritorial atas semua orang dan benda yang berada dalam batas-batas wilayah negaranya. Pengecualiannya adalah berkaitan dengan imunitas negara berdaulat dan staf diplomatik.10

Selain itu, principle of effectiveness juga memegang peranan penting, disamping pertimbangan-pertimbangan untuk memberi perlindungan sewajarnya terhadap semua orang yang mencari keadilan. Prinsip efektifitas berarti, bahwa pada umumnya hakim hanya akan memberi putusan yang pada hakikatnya akan dapat dilaksanakan kelak. Tentunya yang paling terjamin apabila gugatan diajukan dihadapan pengadilan dimana pihak tergugat (dan benda-bendanya) berada.11

Masing-masing negara memiliki hukum acara. Hukum acara ini terkadang memiliki persamaan, tetapi terkadang juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Perbedaan ini banyak dipengaruhi tradisi hukum yang diikuti kondisi masyarakat dan sejarah hukum negara yang bersangkutan.

Untuk mengantisipasi berbagai kesulitan yang mungkin timbul di kemudian hari, sejak awal permasalahan ini diselesaikan dengan merumuskan klausul pilihan yurisdiksi (choice of jurisdiction) atau pilihan forum (choice of forum) di dalam kontrak bisnis yang bersangkutan. Pilihan yurisdiksi ini bermakna bahwa, para pihak di dalam kontrak sepakat memilih forum atau lembaga yang akan menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul diantara kedua belah pihak.

Pilihan yirusdiksi ini dapat mengacu kepada pengadilan di salah satu negara dari para pihak yang mengadakan transaksi. Pilihan yurisdiksi ini juga dapat merujuk kepada satu lembaga arbitrase di negara tertentu yang dilaksanakan di negara tertentu.

Pada umumnya para pihak dianggap mempunyai kebebasan untuk memilih forum. Mereka bisa menyimpang dari kompetensi relatif dengan memilih hakin lain. Namun demikian, tidak diperkenankan untuk menjadikan suatu peradilan menjadi tidak berwenang bilamana menurutkaidah-kaidah hukum intern negara yang bersangkutan hakim tidak berwenang adanya. Misalnya untuk Nederland tidak dapat dipilih hakim jika menurut hukum Belanda sama sekali tidak ada hakim Belanda yang relatif berwenang mengadili perkara itu.12

Menurut Convention on the Choice of Court 1965, pilihan forum tidak berlaku bagi status atau kewenangan orang atau badan hukum keluarga, termasuk kewajiban atau hak-hak pribadi atau finansial antara orang tua dan atau antara suami dan istri; (1) permasalahan alimentasi yang tidak termasuk dalam butir 1; (2) warisan; (3) kepailitan; dan (4) hak-hak atas benda tidak bergerak.13

Salah satu pilihan yurisdiksi tersebut dapat dilihat dalam klausula pilihan yurisdiksi yang terdapat dalam salah satu perjanjian kerjasama usaha patungan (joint venture agrement): Disputes. All disputes, controversies or differences which may arise between the parties out of or in relation to or in connection with this agreement, or the breach there of shall be settled by arbitration in Paris, France, in accordance with the rules of conciliation and arbritation of the international chamber of commerce at Paris.

Pengadilan atau arbitrase sebelum memeriksa atau mengadili perkara yang diajukan kepadanya itu terlebih dahulu harus meneliti apakah ia berwenang mengadili perkara tersebut. Salah satu cara untuk menentukan berwenang atau tidaknya ia mengadili perkara yang bersangkutan adalah dengan meneliti klausul pilihan yurisdiksi yang terdapat dalam kontrak yang bersangkutan.

Bilamana hakim yang mengadili suatu perkara yang mengandung elemen asing menemui adanya pilihan forum yang menunjuk kepada badan peradilan lain atau menunjuk kepada badan arbitrase lain, tetapi berlainan kompetensi relatifnya, maka hakim yang bersangkutan harus menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili peradilan tersebut. Misalnya dalam sebuah kontrak ekspor-impor antara pengusaha Indonesia dan Amerika Serikat di Indonesia, para pihak memilih yurisdiksi District of Court di New York. Jika terjadi sengekta antara pihak-pihak, kemudian pengusaha Indonesia itu mengajukan perkaranya kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, maka seharusnya hakim menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili perkara tersebut.

Demikian juga apabila di dalam kontrak itu para pihak ternyata memilih forum arbitrase di luar negeri atau di Indonesia14, maka perkaranya tidak dapat diajukan kepada pengadilan negeri. Hakim harus menyatakan dirinya tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan.

Di dalam praktik, walau sudah ada pilihan yurisdiksi yang merujuk kepada suatu lembaga arbitrase dan dilaksanakan di luar negeri seperti Singapura atau Paris, seringkali partner atau mitra Indonesia berusaha untuk tidak patuh kepada isi kontrak yang bersangkutan. Mitra atau pengusaha Indonesia seringkali membawa perselisihan yang mereka hadapi ke pengadilan negeri di Indonesia, kendati telah ada pilihan forum. Biasanya pihak pengusaha asing mengajukan eksepsi, yang isinya menyatakan bahwa pengadilan negeri yang memiliki kompetensi untuk memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan karena telah ada pilihan forum yang merujuk kepada arbitrase tertentu dan dilaksanakan di luar negeri.

Atas eksepsi tersebut, putusan pengadilan negeri menunjukkan keragaman. Ada yang menerima eksepsi tersebut, tetapi juga ada yang menolak eksepsi tersebut. Dengan ditolaknya eksepsi tersebut, maka hakim melanjutkan untuk memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan. Praktik di Mahkamah Agung menunjukkan hal yang berbeda. Mahkamah Agung konsistensi menghormati pilihan yurisdiksi yang telah ditentukan para pihak.

Pilihan yurisdiksi arbitrase seperti tersebut di atas telah diakui dan diatur dalam konvensi New York tahun 1958 tentang pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase luar negeri (Convention on the Recognition and Enfocement of Foreign Arbitral Awards). Konvensi tersebut telah diratifikasi Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 34 Tahun 1981.

Oleh karena itu, badan-badan peradilan di Indonesia seperti juga negara lainnya yang terikat pada konvensi tersebut harus pula menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili suatu sengketa dimana para pihak telah menentukan arbitrase sebagai pilihan yurisdiksi mereka.15 Pasal 3 UU No. 30 Tahun 1999 menentukan bahwa pengadilan negeri tidak berwenang mengadili sengketa para pihak yang terkait di dalam perjanjian arbitrase.

Di dalam kontrak-kontrak dagang internasional, terdapat kecenderungan para pihak untuk memilih arbitrase sebagai pilihan yurisdiksi. Pilihan tersebut antara lain didasarkan pada keunggulan atau keuntungan penyelesaian sengketa melalui arbitrase, antara lain berkenaan dengan:16

  1. Kebebasan, kepercayaan dan keamanan

Arbitrase pada umumnya dipilih pengusaha, pedagang atau investor karena memberikan kebebasan dan otonomi yang sangat luas kepada mereka. Selain itu, secara relatif memberikan rasa aman terhadap keadaan tidak menentu dan kepastian sehubungan dengan sistem hukun yang berbeda, juga terhadap kemungkinan putusan hakim yang berat sebelah melindungi kepentingan (pihak) lokal dari mereka yang terlibat dalam suatu perkara.

  1. Keahlian arbiter (expertise)

Para pihak seringkali memilih arbitrase karena mereka memiliki kepercayaan yang lebih besar pada keahlian arbiter mengenai permasalahan yang dipersengketakan dibanding dengan menyerahkan kepada pengadilan. Mereka dapat mengangkat atau menunjuk arbiter atau suat panel arbitrase yang memiliki keahlian terhadap pokok permasalahan yang dipersengketakan. Hal tersebut tidak dapat dijamin dalam sistem badan peradilan umum.

  1. Cepat dan hemat biaya

Sebagai suatu proses pengambilan keputusan, arbitrase seringkali lebih cepat, tidak terlalu formal, dan lebih murah daripada proses litigasi di pengadilan. Putusan arbitrase biasanya ditetapkan bersifat final dan tidak dapat banding.17

  1. Bersifat rahasia

Oleh karena arbitrase berlangsung dalam lingkungan yang bersifat privat dan bukan bersifat umum, maka arbitrase juga bersifat privat dan tertutup. Sifat rahasia arbitrase dapat melindungi para pihak dari hal-hal yang tidak diinginkan atau yang merugikan para pihak akibat penyingkapan informasi kepada umum. Selain itu, hal ini juga dapat melindungi mereka dari publisitas yang merugikan dan akibat-akibat, seperti kehilangan reputasi, bisnis dan pemicu bagi tuntutan-tuntutan lainnya, yang dalam proses ajudikasi publik dapat mengakibatkan pemeriksaan sengketa secara terbuka.

  1. Bersifat non precedent

Di dalam sistem hukum yang prinsip preseden (precedent) mempunyai pengaruh penting dalam pengambilan keputusan mengakibatkan keputusan arbitrase pada umumnya tidak memiliki nilai atau sifat preseden. Para pihak khawatir akan menciptakan preseden yang merugikan, yang mungkin dapat mempengaruhi kepentingannya di masa mendatang. Karena itu, untuk perkara yang serupa mungkin saja dihasilkan putusan arbitrase yang berbeda sebab arbitrase tidak akan memberikan preseden.

  1. Kepekaan arbitrator

Walaupun para hakim dan arbiter menetapkan ketentuan hukum untuk membantu penyelesaian perkara yang mereka hadapi, dalam hal-hal yang relevan, arbiter akan lebih memberikan perhatian terhadap keinginan, realitas, dan praktek dagang para pihak. Sebaliknya, pengadilan sebagai lembaga penyelesaian sengketa yang bersifat publik, seringkali memanfaatkan sengketa privat sebagai tempat untuk lebih menonjolkan nilai-nilai masyarakat. Akibatnya, dalam penyelesaian sengketa privat, pertimbangan hakim lebih mengutamakan kepentingan umum. Kepentingan privat atau pribadi dinomorduakan. Arbiter pada umumnya menerapkan pola nilai-nilai sebaliknya.

Di dalam praktik, pengusaha asing selain cenderung memilih hukum negaranya sendiri (pilihan hukum) juga lebih menyukai pilihan forum arbitrase di luar negeri. Pilihan hukum asing dan pilihan forum arbitrase di luar negeri yang demikian itu dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa hukum dan pengadilan di negeri berkembang kurang memberikan rasa aman bagi mereka. Pengusaha asing seringkali khawatir terhadap hukum dan hakim negara berkembang. Bagi mereka hukum negara berkembang sukar untuk diketahui. Ibarat orang harus melompat di dalam kegelapan sprong in het duister atau masuk dalam rimba raya dengan hutan belukar hingga tidak tahu jalan keluarnya.18 Mereka takut akan hukum yang tidak diketahui tersebut. Juga ada ketakutan atau keraguan pengadilan atau hakim yang melaksanakan hukum yang kurang diketahui oleh mereka.

 

C. Hukum yang Berlaku dan Kontrak Bisnis Internasional

Mengingat transaksi atau kontrak bisnis mengandung elemen-elemen asing, maka dalam pelaksanaannya menimbulkan persoalan, hukum manakah yang berlaku (applicable law) atas perjanjian atau kontrak tersebut?

Pada prinsipnya hukum yang berlaku di dalam kontrak yang mengandung unsur HPI tersebut adalah hukum yang dikipik seniri oleh para pihak (pilihan hukum). Jika pilihan hukum tersebut tidak ditemukan dalam kontrak yang bersangkutan, dapat digunakan bantuan titik-titik taut sekunder lainnya.

Sesuai dengan asas kebebeasan berkontrak, para pihak dalam suatu perjanjian atau kontrak bebas menentukan isi dan bentuk suatu perjanjian, termasuk untuk menentukan pilihan hukum.19 Kemudian apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak tadi berlaku sebagai undang-undang bagi kedua belah pihak dalam suatu kontrak.20

Pilihan hukum merupakan masalah sentral dalam HPI berbagai sistem hukum. Ia telah diterima, baik di kalangan akademisi maupun praktik pengadilan. Yansen Derwanto Latif menyatakan bahwa pilihan hukum dihormati dengan beberapa alasan:21

Pertama, pilihan hukum sebagaimana maksud para pihak dianggap sangat memuaskan oleh mereka yang menganggap kebebasan akhir individu adalah dasar murni dari hukum. Prinsip ini berlaku di banyak negara. Hal ini merupakan fakta yang menarik, karena hal itu terjadi tanpa ada perjanjian antara pengadilan di berbagai negara.

            Kedua, pilihan hukum dalam kontrak internasional memberikan kepastian, yakni memungkinkan para pihak dengan mudah menentukan hukum yang mengatur kontrak tersebut.

Ketiga, akan memberikan efesiensi, manfaat, dan keuntungan. Pilihan hukum para dilaksanakan berdasarkan pertimbangan efisiensi. Alasan tersebut memberikan keuntungan untuk menghindari hukum memaksa yang tidak efisien, meningkatkan persaingan hukum, dan mengurangi ketidakpastian tentang hukum yang dipergunakan. Pemuatan pilihan hukum dalam hukum kontrak adalah hanya satu cara dari pengurangan biaya. Suatu alternatif mungkin adalah suat peraturan bersifat memaksa yang relatif sederhana, seperti menentukan hukum tempat kontrak dibuat. Hal ini akan menghemat para pihak dari biaya penentuan hukum yang berlaku, jga tidak terdapat klausul pilihan hukum.

Keempat, pilihan hukum akan memberikan kepada negara insentif bersaing. Kebebasan para pihak memilih dan menentukan hukum yang berlaku bagi kontrak yang mereka buat, yang berarti tidak semata-mata hak mereka untuk menggantikan atau memindahkan peraturan yang tidak pasti dalam setiap sistem hukum.

Pilihan hukum para pihak didasarkan pada pertimbangan bahwa pada prinsipnya seluruh sistem hukum nasional adalah sama dan oleh karenanya dapat saling dipindahkan. Dalam kontrak internasional, hukum privat nasional akan diterapkan apabila tidak ada pilihan hukum oleh para pihak atau mungkin dipindahkan oleh para pihak melalui klausul pilihan hukum kepada hukum nasional lainnya.22

Pilihan hukum ini sudah umum. Kini orang sudah tidak meragukan lagi, bahwa para pihak dalam membuat suatu kontrak dapat menentukan sendiri hukum bagi kontrak yang mereka buat itu.23

Pada dasarnya para pihak bebas untuk menentukan pilihan hukum dengan mengingat beberapa pembatasan: (1) Tidak bertentangan dengan ketertiban umum; (2) Pilihan hukum tidak mengenai hukum yang bersifat memaksa.

Pilihan hukum diperkenankan berdasarkan asas kebebasan berkontrak. Kebebasan tidak berarti tidak ada batasnya. Kebebasan tersebut dibatasi oleh ketentuan ketertiban umu (public policy). Hukum yang memaksa (dwingen recht) juga membatasi kebebasan para pihak dalam menentukan pilihan hukum. Pembatasan-pembatasan tersebut ditentukan oleh keadaan sosial ekonomi kehidupan modern, seperti perlindungan konsumen, pencegahan penyalahgunaan wewenang dari penguasa ekonomi serta menjaga iklim persaingan yang adil dalam ekonomi pasar.24

Pilihan hukum harus secara tegas di dalam kontrak yang bersangkutan. Para pihak secara tegas dan jelas menentukan hukum mana yang mereka pilih. Hal tersebut biasanya muncul dalam klausul governing law atau applicable law yang isinya berbunyi:

  1. The validity. Construction and performance of this agreement shall be governed by an interpreted in accordance with the law of Republic Indonesia; atau
  2. This agreement shall be governed by and constructed in all respects in accordance with the law of England.

Keabsahan suatu kontrak didasarkan pada hukum yang dipilih para pihak tersebut. Demikian juga apabila terjadi perselisihan di antara para pihak baik berkenaan dengan penafsiran maupun pelaksanaan perjanjian, hakim, atau arbiter yang mengadili perkara tersebut juga harus merujuk kepada hukum yang dipilih para pihak tersebut.

Jika pilihan hukum itu sudah tidak ada, akan timbul sejumlah permasalahan dalam menentkan hukum yang berlaku. Hakim atau arbiter harus menggunakan teori yang lazim dikenal dalam HPI. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut: (1) Lex Loci Contractus; (2) Mail Box Theory dan Theory of Declaration; (30) Lex Loci Solutionis; (4) The proper Law of a Contract; (5) Teori Most Characteristic Connection.

Penentuan teori mana yang dipakai menimbulkan permasalahan tersendiri. Penggunaan titik pertalian atau teori tersebut sangat beragam, bergantung pada titik pertalian mana yang dianut oleh masing-masing kaidah HPI (conflict of law rules) setiap negara. Kaidah HPI Indonesia yang terdapat dalam Pasal 18 AB menentukan, jika tidak ada pilihan hukum, maka hukum yang berlaku merujuk kepada hukum negara tempat dilaksanakannya kontrak.

Untuk menghindari berbagai kesulitan yang mungkin timbul dalam menentukan hukum yang tidak relevan dengan permasalahan yang dihadapi serta untuk menghindari hukum yang tidak dikehendaki, pilihan hukum merupakan cara terbaik untuk menentukan hukum yang berlaku itu.

 

D. Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Pengadilan atau Arbitrase Asing

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pihak asing dalam penentuan klausula pilihan yurisdiksi dan pilihan hukum umumnya lebih menghendaki pengadilan dan hukum negara mereka. Jika tidak, mereka bersedia menggunakan hukum Indonesia, tetapi pilihan yurisdiksinya mengacu kepada pengadilan atau arbitrase asing yang tidak harus mengacu kepada pengadilan atau arbitrase di negara mereka, yang penting tidak diadili di Indonesia.

Misalnya dalam salah satu kontrak bisnis internasional ditentukan klausul sebagai berikut: This contract shall be governed by and interpreted in accordance with the law of New York, United States of America. Kemudian pilihan yurisdiksinya juga mengacu kepada pengadilan di negara bagian New York.

Terhadap keadaan semacam ini, akan menimbulkan persoalan sehubungan dengan bagaimana melaksanakan putusan pengadilan tersebut jika yang kalah dalam pengadilan adalah pengusaha Indonesia. Padahal, yang bersangkutan jelas berdomisili di Indonesia dan tidak mempunyai harta benda di New York, apakah putusan hakim tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia? Apakah putusan tersebut dapat langsung dilaksanakan tanpa harus mengadilinya lagi di Indonesia dan apakah hakim Indonesia terikap pada putusan hakim asing tersebut.

Istilah pelaksanaan (enforcement) harus dibedakan dengan istilah pengakuan (recognition). Menurut Sudargo Gautama25 pengakuan tidak begitu mendalam akibatnya daripada pelaksanaan. Melaksanakan keputusan meminta lebih banyak, seperti tindakan-tindakan aktif dari instansi tertentu yang berkaitan dengan peradilan dan administrasi, terhadap pengakuan tidak diperlukan atau diharapkan tindakan demikian itu. Oleh karena itu, kiranya mudah dimengerti mengapa orang dapat mudah sampai pada pengakuan keputusan yang diucapkan di luar negeri daripada melaksanakannya.

Sudah sejak lama dianut asas bahwa putusan-putusan badan peradilan suatu negara tidak dapat dilaksanakan di wilayah negara lain. Putusan hakim suatu negara hanya dapat dilaksanakan di wilayah negaranya saja.26

Di Indonesia berlaku ketentuan bahwa putusan hakim asing tidak dapat dilaksanakan di wilayah Indonesia.27 Putusan hakim asing tidak dapat dianggap sama dan sederajat dengan putusan hakim Indonesia sendiri yang dapat dilaksanakan di Indonesia. Ketentuan tersebut di atas erat kaitannya dengan prinsip kedaulatan teritorial (principle of territorial sovereignty) dimana berdasar asas ini putusan hakim asing tidak dapat secara langsung dilaksanakan di wilayah negara lain atas kekuatannya sendiri.28

Pada umumnya putusan hakim asing tidak dapat dilaksanakan di Indonesia. Dikatakan pada umumnya, karena ada dalam hal tertentu ada putusan hakim yang dapat dilaksanakan di Indonesia. Pasal 436 R.V. menyebutkan, bahwa kecuali dalam hal-hal yang ditentukan oleh pasal 724 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dan undang-undang lain, putusan-putusan asing tidak dapat dilaksanakan di Indonesia. Jadi, putusan hakim asing mengenai perhitungan avarai umum (grosse avaraij) terhadap pemilik kapal atau pemilik kargo yang diangkut oleh kapal yang bersangkutan dan berdomisili di Indonesia, berdasar ketentuan tersebut tidak dapat dilaksanakan di Indonesia.

Berlainan dengan keputusan pengadilan, umumnya keputusan arbitrase dapat dilaksanakan di luar negeri. Secara internasional , pengaturan pelaksanaan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing ini diatur dalam Konvensi New York Tahun 1958 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing (Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award), yang mulai berlaku sejak tanggal 7 Juni 1959.

Konvensi New York Tahun 1958 tersebut telah diratifikasi pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 34 Tahun 1981. Keppres ratifikasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Peratiran Mahkamah Agung Republik Indonesia (Perma) No. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing.

Dalam perkembangannya, tata cara pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase di luar negeri telah diatur dalam undang-undang, yakni UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Rules yang menjadi sumber hukum tata cara pemberian exequatur putusan arbitrase asing terdiri atas Konvensi New York 1958 dan Perma No. 1 Tahun 1990. Rules yang menjadi sumber hukum pelaksanaan eksekusinya sendiri tetap berpedoman pada pasal 436 R.V. dengan menerapkan pasal-pasal tentang tata cara eksekusi yang diatutr dalama Pasal 195-224 HIR.29 Belakangan didasarkan pada UU No. 30 Tahun 1999.

Menurut Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1990, yang dimaksud dengan putusan arbitrase asing adalah putusan yang dijatuhkan suatu badan arbitrase atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, ataupun putusan suatu Badan Arbitrase ataupun Arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan Arbitrase Asing, yang berkekuatan hukum tetap sesuai dengan Keppres No. 34 Tahun 1981.

UU No. 30 Tahun 1999 menggunakan istilah arbitrase internasional. Menurut Pasal 1 angka 9 UU No. 30 Tahun 1999, putusan arbitrase internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau suatu putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai putusan arbitrase internasional.

Di sini yang menjadi ciri putusan arbitrase asing didasarkan pada faktor wilayah atau teritorial. Setiap putusan yang dijatuhkan di luar teritorial Republik Indonesia dikualifikasikan sebagai putusan arbitrase asing.30

Ciri putusan arbitrase asing yang didasarkan pada faktor teritorial, tidak menguntungkan syarat perbedaan kewarganegaraan maupun perbedaan tata hukum. Meskipun para pihak yang terlibat dalam putusan adalah orang-orang Indonesia, dan sama-sama warga negara Indonesia, juka putusan-putusannya dijatuhkan di luar negeri, putusan tersebut dikualifikasikan sebagai putusan arbitrase asing.31

Dalam Pasal 66 UU No. 30Tahun 1999 jo Pasal 3 Perma No. 1 Tahun 1990 dinyatakan bahwa putusan hanya diakui dan dapat dilaksanakan di wilayah hukum Indonesia apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Putusan itu dijatuhkan oleh badan arbitrase atau arbiter perorangan di suatu negara yang dengan negara indonesia ataupun bersama-sama negara Indonesia terikat dalam suatu konvensi internasional perihal pengakuan serta pelaksanaan putusan arbitrase asing. Pelaksanaannya didasarkan atas timbal balik (respriositas);
  2. Putusan-putusan arbitrase asing tersebut di atas hanyalah terbatas pada putusan-putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum dagang;
  3. Putusan-putusan arbitrase asing tersebut di atas hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

Di dalam transaksi bisnis internasional selalu terdapat kemungkinan bertemunya dua atau lebih sistem hukum yang berbeda. Tidak mungkin semua sistem hukum tersebut diberlakukan. Di sini sangat diperlukan adanya pilihan hukum. Ketika negosiasi dilakukan, permasalahan pilihan hukum ini harus ditempatkan sebagai prioritas pertama. Pilihan hukum tersebut diikuti dengan pilihan yurisdiksi. Bagi pengusaha Indonesia sebaiknya pilihan hukum dan pilihan yurisdiksi diarahkan kepada hukum Indonesia dan pengadilan atau arbitrase Indonesia.

 

E. Penutup

Dalam suatu transaksi perdagangan internasional, pilihan hukum menjadi sebuah prioritas utama. Hal ini dilakukan demi melindungi pihak yang melakukan perjanjian atau kontrak, mencegah terjadinya ketimpangan keadilan bagi salah satu pihak dalam perjanjian apabila terjadi suatu perselisihan diantara mereka. Karena setiap negara memberlakukan sistem hukum yang berbeda satu dengan yang lainnya, dan tidak mungkin untuk memberlakukan sistem-sistem hukum yang berbeda dalam satu pengadilan.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya ketimpangan dalam perselisihan dalam suatu transaksi perdagangan internasional, arbitrase merupakan pilihan yang menguntungkan yang umum digunakan oleh para pengusaha, pedagang, atau investor karena beberapa hal: (1) Memberikan kebebasan, kepercayaan, dan rasa aman; (2) Arbiter memiliki keahlian terhadap pokok permasalahan yang dipersengketakan; (3) Pengambilan keputusan yang cepat dan hemat biaya; (4) Bersifat rahasia untuk melindungi para pihak dari hal-hal yang tidak diinginkan atau yang merugikan para pihak akibat penyingkapan informasi kepada umum; (5) Arbitrase bersifat non-precedent; (6) Arbiter akan lebih memberikan perhatian terhadap keinginan, realitas, dan praktek dagang para pihak.

Kewaspadaan dan kecermatan para pengusaha, pedagang, atau investor sangat dibutuhkan sebelum melakukan sebuah kontrak atau perjanjian dalam suatu transaksi perdagangan internasional demi mencegah atau menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang dapat merugikan mereka di masa mendatang.

 

Daftar Pustaka

Freund, O. Khan, General Problem of Private International Law, A.W.Stijhoff, Leyden, 1976.

Gautama, Sudargo, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid III Bagian II (Buku 8), Alumni, Bandung, 1978.

________, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung, 1958.

________, Arbitrase Dagang Internasional, Alumni, Bandung, 1986.

________, Pengantar Hukum Perdata Internasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional – Binacipta, Bandung, 1987.

Goodpaster, Gary et.al, “Tinjauan terhadap Arbitrase Dagang Secara Umum dan Arbitrase Dagang di Indonesia”, Dalam Felix O. Seobagjo dan Erman Rajagukguk, eds, Arbitrase di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1995.

Harahap, M. Yahya, Arbitrase, Pustaka Kartini, Jakarta, 1991.

Khairandy, Ridwan, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004.

Latip, Yansen Derwanto, Pilihan Hukum dan Pilihan forum dalam Kontrak Internasional, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2002.

North, P.M. and J.J Pawcett, Private International Law, Butterworth, London, 1987.

Siegel, David D, Conflict, West Publishing Co, St. Paul, Minn, 1982.

Sjahdeini, Sutan Remy, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Hukum yang Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993.

 

Catatan Kaki

  1. P.M. North dan J.J. Pawcett, Private International Law, Butterworth, London, 1987, hlm 7. Lihat juga David D. Siegel, Conflict, West Publishing Co, St. Paul, Minn, 1982, hlm 4.
  2. J.G. Casterl, op.cit., hlm 59.
  3. Ibid.
  4. Ibid.
  5. Ibid., hlm 60.
  6. Sudargo Gautama, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid III Bagian II (Buku 8), Alumni, Bandung, 1978, hlm 210.
  7. Ibid., hlm 211.
  8. Ketentuan ini merupakan reglemen hukum acara perdata yang berlaku untuk golongan Eropa. Kemudian dengan dihapuskannya Raad van Justitie dan Hooggerechtshof, ketentuan ini sudah tidak berlaku lagi. Namun apabila dalam HIR atau Rbg tidak terdapat pengaturan tertentu mengenai hukum acara perdata, misalnya mengenai arbitrase, ketentuan RV dapat dijadikan pedoman.
  9. Sudargo Gautama, op.cit, hlm 211.
  10. Ibid., hlm 213.
  11. Ibid.
  12. Ibid., hlm 233.
  13. Ibid., hlm 234.
  14. Misalnya Badan Arbitrase Nasional Indonesia atau Badan Arbitrase Syariah Nasional.
  15. Sudargo Gautama, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung, 1985, hlm 23.
  16. Lebih lanjut lihat Gary Goodpaster et.al, “Tinjauan terhadap Arbitrase Dagang Secara Umum dan Arbitrase Dagang di Indonesia”, dalam Felix O. Seobagjo dan Erman Rajagukguk, eds, Arbitrase di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1995, hlm 19-21.
  17. Di dalam kasus-kasus yang sangat rumit, proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase ternyata tidak lebih cepat dari litigasi di pengadilan. Biayanya terkadang juga lebih tinggi pula, karena pihak harus membayar arbitrator yang sudah sangat profesional.
  18. Sudargo Gautama, Arbitrase Dagang Internasional, Alumni, Bandung, 1986, hlm 10.
    1. Di dalam hukum kontrak, kebebasan berkontrak mencakup: (1) kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian; (2) kebebasan untuk memilih dengan siapa ia ingin membuat perjanjian; (3) kebebasan untuk menentukan atau memilih kausa perjanjian yang akan dibuatnya; (4) kebebasan untuk menentukan objek perjanjian; (5) kebebasan untuk menentukan isi perjanjian; (6) kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional (aanvullend). Lihat Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Hukum yang Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993, hlm 47.
    2. Kebebasan berkontrak didasarkan pada asas konsensualisme. Asas ini mendasarkan perjanjian pada kesepakatan (konsensus) para pihak dalam kontrak. Dengan adanya konsensus tersebut, maka kesepakatan itu menimbulkan kekuatan mengikat kontrak sebagai mana layaknya undang-undang (pacta sunt servanda). Apa yang dinyatakan seseorang dalam suatu hubungan hukum menjadi hukum bagi mereka (cum nexum faciet mancipium que, uti linguaamncuoassit, ita jus esto). Asas inilah yang menjadi kekuatan mengikatnya kontrak (verbindende kracht van de overeenkomst). Ini bukan saja kewajiban moral, tetapi juga kewajiban hukum yang pelaksanaannya wajib ditaati. Perhatikah Ridwan Khairandy, Iktikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, hlm 29.
    3. Yansen Derwanto Latip, Pilihan Hukum dan Pilihan Forum dalam Kontrak Internasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional – Binacipta, Bandung, 1987, hlm 169.
    4. Ibid.
    5. Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional, Badang Pembinaan Hukum Nasional – Binacipta, Bandung, 1987, hlm 169.
    6. Ibid, hlm 64.
    7. Sudargo Gautama, op.cit. … Buku 8, hlm 278.
    8. Sudargo Gautama, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung, 1985, hlm 281.
    9. Lihat Pasal 436 Reglement op de Rechtsvordering (R.V) walaupun sebenarnya ketentuan R.V sudah tidak berlaku lagi di Indonesia, namun oleh karena Herzeine Inland Reglement (HIR) yang mengatur hukum acara perdata bagi golongan Bumiputra dan yang sekarang digunakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menyebutkan atau mengatur mengenai putusan asing ini, maka ketentuan R.V. tersebut kiranya dapat dijadikan pedoman.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2012 in Uncategorized

 

makalah motivasi menjadi usaha

 

 

MAKALAH

 

MOTIVASI MENJADI WIRAUSAHA

 

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliyah Kewirausahaan yang di

 

ampu oleh Bp. Eko Prawoto S.E, M.M

 

 

 

 

 

Manajemen

 

Oleh :

 

Alpian

5110003

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI

 

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ )

 

JAWA TENGAH DI WONOSOBO

 

2012

 

 

 

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

 

Untuk menjadi seorang wirausaha yang SUKSES dan KAYA itu bukan bakat, dan juga tidak harus keturunan. Tapi, Sukses dan kaya itu mimpi atau visi. Mimpi yang menjadi kenyataan. Artinya, kalau kita tidak berusaha sama sekali untuk menjadi kaya, misalnya dengan jalan berwirausaha, maka mana mungkin kekayaan itu kita dapat.

Terlepas dari itu, tapi yang jelas, semua orang pasti punya mimpi. Setiap kita menjalankan bisnis apapun, sebenarnya yang kita cari bukanlah semata-mata uang atau ingin kaya. Tapi, karena adanya keinginan kita untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sebagai konsekuensi logis atas jerih payah kita adalah kita bisa mendapatkan keuntungan atau uang, dan bisa juga aset kita yang semakin bertambah. Hal itu seiring dengan kegigihan kita di dalam menjalankan bisnis.

Jika kita sebagai seorang entreprener atau wirausahawan, yang namanya mimpi-mimpi bisnis tak akan ada habisnya. Seolah kita adalah sosok yang tak akan pernah kehabisan mimpi. Apalagi, kita termasuk entreprener yang kreatif dan inovatif. Bisnis yang satu maju pesat, bisnis yang lainnya ikut berkembang. Sementara, bisnis yang lainnya lagi ikut bermunculan. Sehingga, tak terasa atau bagaikan sebuah mimpi, ternyata bisnis kita semakin banyak. Aset yang kita miliki juga semakin bertambah.

Kalau bisnis kita semakin maju, tentu akan ada percepatan dalam penambahan aset. Bukan tak mungkin, kita akan semakin pintar memutar bisnis kita, bahkan mampu mendatangkan dana dari luar yang nantinya juga akan menjadi aset kita,itu semua berjalan seiring dengan mimpi atau visi kita sebagai entreprener.

Entrepreneur itu sosok yang seharusnya tidak takut dengan mimpi.Apalagi mimpi itu tidak perlu biaya. Tetapi, masalahnya adalah belum tentu semua orang punya keberanian bermimpi. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk bermimpi pun membutuhkan sebuaah keberanian.Hal ini bisa terjadi karena kita terkadang masih terpaku pada mitos-mitos yang tengah mentradisi di kalangan masyarakat luas. Misalnya, ada mitos yang mengatakan bahwa kalau kita mau sukses, kita harus punya gelar sarjana. Padahal kenyataannya, cukup banyak orang yang sukses tanpa menyandang gelar sarjana.

 

1.2 Rumusan Masalah              

Untuk memberikan uraian dari penjelasan makalah ini, maka diperlukan adanya perumusan masalah yang gunanya untuk membatasi pembahasan agar tidak menyimpang jauh dari topik yang telah ditentukan.

Dalam makalah ini telah dirumuskan yaitu:

  1. Bagaimana Mengubah Pola Pikir untuk menjadi seorang wirasusaha?
  2. Bagaimana Motivasi Berprestasi bagi seorang wirausaha?
  3. Apa saja Nilai  Hakiki Kewirausahaan?
  4. Sikap dan Kepribadiaan Kewirausahaan model proses kewirausahaan?

 
 

 

 

 

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

2.1 Mengubah Pola Pikir

Ada 4 karakteristik pebisnis dengan sikap piker wirausaha.

  1. Rajin dan semangat dalam mencari peluang baru.
  2. Mengejar peluang dengan disiplin ketat. Kegigihan wirausaha memang luar biasa. Tidak ada kata tidak bisa dalam kamus wirausaha. Kemunduran atau kegagalan dalam bisnis tidak membuat mereka putus asa dan berhenti.
  3. Wirausahawan hanya mengejar peluang paling baik dan hanya menghindari  mengejar semua peluang tidak pandang bulu. Wirausahawan sadar bahwa problem mereka bukanlah kekurangan gagasan bisnis melainkan terlalu berlimpah gagasan. Dengan demikian, tidak mungkin bagi mereka untuk mengejar semua peluang bagus. Prioritas adalah kata kuncinyaWirausahawan berfokus pada tindakan secara adaptif. Mereka tidak menunggu segala sesuatu sempurna sebelum memulai suatu bisnis. Lakukan dulu dengan persiapan secukupnya, tak perlu mendekati sempurna. Dalam bertindak, mereka selalu waspada.

 

dalam menghadapi situasi-situasi, dan fleksibel untuk menyesuaikan tindakan  mereka bila dirasa salah.

  1. Wirausahawan melibatkan dan memanfaatkan energi disekitar mereka didalam maupun diluar organisasi mereka. Mereka sadar bahwa mereka bukan orang super segalanya.

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut

Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.

Dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini.

Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri

Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.

3. Percaya pada kekuatan pikiran positif

Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Fokus pada hal-hal positif

Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti ‘hari ini cerah’ atau ‘makan sore hari ini menakjubkan’. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.

5. Hadapi rasa takut

Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

Ada banyak sifat yang dirujukkan pada seorang wirausahawan, misal, pemberani, pembuka jalan, pengambil resiko, bahkan serakah, rakus, dan macam-macam lainnya. Manusia-manusia langka yang berani menghadapi resiko dan berspekulasi dipandang sebagai pengusaha yang tega melakukan apa pun untuk meraih kekayaan sehingga merusak kesehatan dirinya sendiri. Yang jelas, semua image tersebut sudah seharusnya dibuang ke dalam keranjang sampah mistik dan kesalahpahaman.

 

Ada tiga sifat dan hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan sejati.Yaitu:

1. Visioner. Wirausahawan model lama biasanya suka melawan sesuatu. Karena, mereka menginginkan kebebasan dan melakukan segala sesuatu menurut cara mereka sendiri,serta percaya bahwa mereka bisa melakukannya jauh lebih baik ketimbang orang lain. Tetapi, bagi seorang wirausahawan sejati, jiwa yang memberontak hanyalah sebagian kecil saja. Bagaimana pun, seorang wirausahawan sejati lebih merupakan seorang yang visioner.

2. Pencipta nasibnya sendiri. Wirausahawan tradisional menciptakan bisnis, dan ini merupakan motivator terbesar mereka. Namun, ketika bisnis telah diciptakan, kemana lagi mereka akan melangkah? Wirausahawan sejati bergerak menuju nasib dan takdir mereka. Mereka mendapat inspirasi dari sesuatu yang lebih luas daripada sekedar apa yang bisa mereka usahakan. Mereka pun menggali kekuatan batin dalam mereka dan melangkah penuh percaya diri. Mereka bisa tetap melangkah meski hambatan tampaknya mustahil dilalui.

3. Menarik perhatian. Semua wirausahawan mempunyai mimpi. Sebagian dari mereka berkeinginan untuk mencapai tujuan yang jelas, sedangkan yang lain hanya berkeinginan untuk menjadi seorang wirausahawan yang terkenal dan pertama.Mereka mendorong ide dan bisnis untuk melakukan sesuatu yang mungkin sulit dicapai orang lain.

Mereka tahu bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang lebih baik bagi klien dan rekan bisnis mereka. Dan, sebagai akibatnya bisnis mereka pun tumbuh.Tak peduli apakah anda sekarang ini adalah seorang wirausahawan atau sedang bermimpi menjadi seorang wirausahawan, memahami bagaimana menjadi seorang wirausahawan sejati tentu mempunyai banyak keuntungan bagi anda.

 

2.2 Motivasi Berprestasi

a. Definisi motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai keadaan dalam diri individu yang menyebabkan mereka berperilaku dengan cara yang menjamin tercapainya suatu tujuan. Motivasi menerangkan mengapa orang-orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Semakin wirausahawan mengerti perilaku anggota organisasi, semakin mampu mereka mempengaruhi perilaku tersebut dan membuatnya lebih konsisten dengan pencapaian tujuan organisasional. Karena produktivitas dalam semua organisasi adalah hasil dari perilaku anggota organisasi, mempengaruhi perilaku ini adalah kunci bagi wirausahawan untuk meningkatkan produktivitas.

b. Model-Model Motivasi

  • Model motivasi kebutuhan-tujuan

Menurut Masykur (1996:204)

Model motivasi kebutuhan dan tujuan dimulai dengan perasaan kebutuhan individu. Kebutuhan ini kemudian ditransformasi menjadi perilaku yang diarahkan  untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan. Tujuan dari perilaku tujuan adalah untuk mengurangi kebutuhan yang dirasakan. Secara teoritis, perilaku mendukung tujuan dan perilaku tujuan berkelanjutan sampai kebutuhan yang dirasakan telah sangat berkurang.

Contoh, seseorang mungkin merasakan kelaparan. Kebutuhan ini ditransformasikan pertama kedalam perilaku yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan perilaku tujuan untuk makan. Contoh dari perilaku yang mendukung termasuk juga aktivitas-aktivitas seperti membeli, memasak dan menyajikan makanan untuk dimakan. Perilaku pendukung tujuan tersebut dan perilaku tujuan makan itu sendiri akan berkelanjutan sampai individu  merasakan kebutuhan lapar menjadi berkurang. Sekali individu mengalami kebutuhan lapar kembali, daur tersebut akan mulai kembali.

  • Model ekspektasi motivasi Vroom

Model ekspektasi Vroom mengatasi beberapa kerumitan tambahan. Model ekspektasi Vroom didasarkan pada premis bahwa keburuhan yang dirasakan menyebabkan perilaku kemanusiaan. Akan tetapi, Disamping itu model ekspektasi Vroom mengungkapkan isu kekuatan motivasi. Kekuatan motivasi adalah tingkatan keinginan individu untuk menjalankan suatu perilaku. Ketika keinginan meningkat atu menurun, kekuatan motivasi dikatakan berfluktuasi.

  • Model motivasi Porter-Lawler

Portel dan Lawler telah mengembangkan suatu model motivasi yang menggambarkan uraian proses motivasi yang lebih lengkap disbanding model kebutuhan-tujuan atau model ekspektasi Vroom. Model motivasi Porter-Lawler ini konsisten dengan dua model sebelumnya dimana model ini menerima premis bahwa (1) kebutuhan yang dirasakan akan menyebabkan perilaku kemanusiaan; dan (2) usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tugas ditentukan oleh nilai balas jasa yang dirasakan yang dihasilkan dari suatu tugas dan probabilitas bahwa balas jasa tersebut akan menjual nyata.

Disamping itu, model motivasi Porter-Lawler menekankan tiga karakteristik lain dari proses motivasi:

  1. Nilai balas jasa yang dirasakan ditentukan oleh baik balas jasa intrinsic dan ekstrinsik yang menghasilkan kepuasan kebutuhan ketika suatu tugas diselesaikan. Balas jasa intrinsik berasal langsung dari pelaksanaan suatu tugas, sementara balas jasa ekstrinsik tidak ada hubungannya dengan tugas itu sendiri.
  2. Tingkatan dimana individu secara efektif menyelesaikan suatu tugas ditentukan oleh dua variablel: (1) persepsi individu tentang apa yang diperlukan untuk mrlaksanakan suatu tugas, dan (2) Kemampuan sesungguhnya daru individu untuk menjalankan suatu tugas.
  3. Keadilan balas jasa yang dirasakan akan mempengaruhi jumlah kepuasan yang dihasilkan oleh balas jasa tersebut. Pda umumnya, semakin adil balas jasa yang dirasakan oleh individu, semakin besar kepuasan yang dirasakan sebagai hasil dari menerima balas jasa tersebut

c. Motivasi prestasi McCLELLAND

Teori lain mengenai kebutuhan manusia dipusatakan kepada kebutuhan untuk berprestasi. Teori ini yang terutama dipopulerkan oleh David McClelland mendefinisikan kebutuhan berprestasi (need for achievement atau n Ach) sebagai keinginan untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik, atau dengan lebih efisien dibandingkan yang telah dikerjakan sebelumnya. McClelland mengatakan bahwa pada beberapa orang bisnis kebutuhan untuk berprestasi demikian kuat sehingga ia lebih termotivasi dibandingkan upaya mencapai keuntungan. Untuk memaksimumkan kepuasannya, individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi cenderung menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri yang adalah merupakan tantangan tetapi masih bisa dicapai. Walaupun individu-individu tersebut tidak menghindari resiko sepenuhnya, mereka menilai resiko dengan sangat hati-hati. Individu yang termotivasi keinginan berprestasi tidak ingin gagal dan akan menghindari tugas-tugas yang melibatkan terlalu banyak resiko. Individu dengan keinginan yang rendah untuk berprestasi umumnya menghindari tantangan, tanggung jawab, dan risiko.

  • Memotivasi anggota-anggota organisasi

Orang-orang termotivasi atau menjalankan perilaku untuk memuaskan kebutuhan pribadi mereka. Oleh karena itu dari sudut pandang manajerial, memotivasi anggota organisasi adalah proses memberikan peluang pada mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai hasil menjalankan perilaku produktif organisasi.

  • Arti penting memotivasi anggota-anggota organisasi

Kebutuhan dari anggota organisasi yang tidak terpenuhi akan menyebabkan munculnya perilaku anggota organisasi yang tidak semestinya. Wirausahawan yang berhasil didalam memotivasi oanggota organisasi akan meminimalisasi terjadinya perilaku anggota organisai yang diinginkan. Motivasi anggota organisasi yang berhasil adalah sangat penting bagi wirausahawan.

  • Strategi memotivasi anggota organisasi

Wirausahawan mempunyai berbagai strategi memotivasi anggota organisasi. Tiap strategi tersebut  ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan anggota organisasai konsisten dengan yang diuraikan oleh hirarki kebutuhan Maslow, dan motif berprestasi McClallend.

 

2.3 Nilai Hakiki Kewirausahaan

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat  dan  mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses. Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki  kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat,  mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif  dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Intinya,  seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya.   Orang-orang yang memiliki kreativitas  dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis,  sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir  kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi  tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata  tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam melakukan sesuatu yang baru.

Dengan demikian, ada tiga hakekat pentingnya Kewirausahaan, yaitu:

•  Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yangdijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, prosesdan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)

• Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulaisebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)

• Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yangbaru  (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalammemberikan nilai lebih.

.

2.4 Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan Model Proses Kewirausahaan

Menurut Inkeles (1974:24), Kualitas modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan tingkah laku dalam kehidupan social. Ciri-cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realistis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan dating bukan masa lalu, berencana, percaya diri, dan memiliki aspirasi, mempunyai keahlian, respek, hati-hati serta memahami produksi.

Ciri-ciri yang modern tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Gunar Myrdal, yaitu;

(1)   Kesiapan diri dan keterbukaan terhadap inovasi

(2)   Kebebasan yang besar dari tokoh-tokoh tradisional

(3)   Mempunyai jangkauan dan pand ngan yang luas terhadap berbagai masalah

(4)   Berorientasi terhadap masa sekarang dan yang akan dating

(5)   Selalu memiliki perencanaan dalam segala kegiatan

(6)

Menurut Kathleen L. Hawkins & Peter A. Turla (1986), pola tingkah laku kewirausahaan diatas tergambar dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut:

(1)   Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi resiko, memiliki dorongan, dan kemauan kuat.

(2)   Hubungan, dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antarpersonal, kepemimpinan dan manajemen

(3)   Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi.

(4)   Keahlian dalam mengatur, diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, penjadwalan, serta pengaturan pribadi.

 

Untuk dapat mencapai tujuan-tujuannya, maka diperlukan  sikap dan perilaku yang mendukung pada diri  seorang wirausahawan. Sikap dan Perilaku  sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak  yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses.

Daftar ciri-ciri dan sifat-sifat profil seorang wirausahawan:

Ciri-Ciri Watak

  1. Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan (Soesarsono Wijandi, 1988:33). Dalam praktik, sikap dan kepercayaan ini merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu,kepercayaan diri memiliki keyakinan,optimism,individualitas,dan ketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan (zimmerer, 1996:7)

Kepercayaan diri ini bersifat internal, sangat relative, dinamis, dan banyak ditentukan oleh kemampuan untuk memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang percaya diri memiliki kemampuan untuk  menyelesaikan pekerjaan dengan sistematis, berencana, efektif, dan efisien. Kepercayaan diri juga selalu ditunjukkan oleh ketenangan, ketekunan, kegairahan, dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan.

  1. Berorientasi pada Tugas dan Hasil

Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan berinisiatif.

  1. Keberanian Mengambil Resiko

Kemauan dan kemampuan mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambila resiko akan sukar memulai atau berinisiatif. (Yuyun Wirasasmita, 1994: 2), Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Dengan demikian, keberanian untuk menanggung yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan resiko tang penuh dengan perhitungan dan realistis. Wirausaha situasi, resiko yang rendah karena tidak ada tantangan dan menjauhi situasi resiko yang tinggi karena ingin berhasil. Jadi, pengambilan resiko lebih menyukai tantangan dan peluang. Oleh sebab itu, pengambil resiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan.

  1. Kepemimpinan

Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan, dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, menjadi yang pertama, dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreatifitas dan inovasi, Ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang duhasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu, dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga menjadi pelopor dalam proses produksi maupun pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai sesuatu yang menambah nilai.

  1. Berorientasi ke Masa Depan

Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan, maka ia selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada saat ini. Meskipun terdapat rersiko yang mungkin terjadi, Ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaruan masa depan.

Pandangan yang jauh kedepan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada saat ini. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.

Disamping hal-hal tersebut diatas, bersadarkan pengalaman dan pendapat para praktisi bisnis/wirausaha dapat disarikan pula sifat-sifat terpenting wirausaha.

Sifat-sifat terpenting dari wirausahawan dikenal dengan Ten-D :

  1. Dream (mimpi) : Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut.
  2. Decisiveness (ketegasan) : Tidak menangguhkan waktu dan membuat keputusan dengan cepat.
  3. Dors (pelaku) : Melaksanakan secepat mungkin.
  4. Determination (ketetapan hati) : Komitmen total, pantang menyerah.
  5. Dedication (dedication) : Berdedikasi total, tak kenal lelah.
  6. Devotion (kesetiaan) : Mencintai apa yang dikerjakan.

Sifat-sifat penting lain dari Seorang Wirausahawan :

  1. Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut
  2. Percaya diri
  3. Memiliki Ketrampilan
  4. Berkarya, kreatif dan innovatif
  5. Mencintai apa yang dikerjakan

 

2.5 Apa saja yang harus dimiliki oleh wirausahawan

A. Visi dan Mimpi Mutlak Bagi Wirausahawan

Kalau entrepreneur berani memiliki visi, maka akan lebih dapat menciptakan kekuatan positif di dalam  pikirannya. Sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup kita. “Hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan”Presiden RI pertama, Ir. Soekamo, pernah bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Visi itu memang bisa mensugesti orang. Dan, semua langkah kita akan kita arahkan kesana. Apalagi entrepreneur ini biasanya seorang pemimpi. Maka mimpi tentang perusahaan, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat mempengaruhi para pengikut yang dipimpinnya.Anda “juru penerang”, mengusir gelapnya pikiran orang lain yang Anda pimpin. Ini prinsip kepemimpinan. Wirausahawan yang memiliki visi, adalah penerangan bagi para bawahannya, anggota “tim sukses”nya dalam bisnis.

Wirausahawan dengan visi besar, merangsang terbangunnya atmosfir bisnis penuh kreativitas dan inovasi. Bahkan orang meyakini, jiwa wirausahawan itu, dekat sekali dengan dunia pengkhayal.  Apa susahnya, berkhayal? Berkhayal adalah aktivitas yang “murah”. Bagaimaan tidak, karena berkhayal tidak memerlukan fasilitas khusus, apalagi ongkos. Sekarang juga, Anda pun bisa berkhayal. Tentu saja, khayalan seorang wirausahawan, bukan sembarang berkhayal. Bahkan, di zaman susah, dengan tumpukan persoalan hidup yang harus dipikul, bisa membuat orang pun tidak berani berhkayal. Anda akan tercenung, kalau kami katakan, “Berkhayal pun, perlu keberanian!”Mengapa? Khayalan yang memicu keberhasilan, atau minimal, keberanian berbuat dan berkreativitas, dihambat pandangan lama yang cuku berurat-akar dalam  benak kita, bahwa orang sukses harus ditopang pendidikan dan gelar formal. Sebetulnya, keyakinan ini bisa dipatahkan dengan mudah. Misalnya, hadirkan saja, beberapa nama orang sukses yang lulus SMA pun, tidak. Sejumlah wirausahawan, memulai dari khayalan. Dan ia mulai kembangkan khayalannya, dari nol sampai akhirnya terwujud.Bill Gates mengimpikan, personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, ia drop out dari studinya, memilih menekuni Microsoft-nya.

Tak bergantung pada keluarga, berarti mulai melangkah menjadi dewasa. Di rantau, apalagi di lingkungan yang tak tahu siapa kita sebelumnya, Anda bisa menjadi pribadi yang baru. Kebaruan ini, sarat tantangan. Merantau, menyadarkan kita apa kelebihan dan kekurangan kita karena kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan baru. Merantau, membuat seseorang relatif tangguh, karena diterjunkan dalam situasi serba baru. Perantau, umumnya segan minta tolong. Di situlah, kemauan menjadi lebih termotivasi. Perantau, rata-rata enggan berutang budi. Justru, karena ia orang baru, seorang perantau cenderung menanam jasa untuk banyak orang. “Investasi sosial” ini, pada saatnya berbuah kebaikan. Siapa sangka, banyak orang yang menyukai kepribadian kita, bernagsur-angsur, menjadi pendukung setia langkah kita menganyam kesuksesan. Jadi? Cobalah merantau, temukan jatidiri Anda yang tangguh, kreatif, dan cerdik menangkap peluang Berani Gagal Hanya orang yaug berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.

Pertama,kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua,setiap  bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga,biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk Keempat,kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Seorang wirausahawan, adalah yang selalu “melek” dan “buka telinga” terhadap setiap peluang. Sukses wirausahawan, bukan sekadar “rezeki dari langit”, tapi juga kejelian membaca/menangkap peluang. Dan ini memerlukan stamina usaha yang tinggi. Jangan ketakutan lebih dulu, seakan-akan wirausahawan itu orang yang tidak pernah beristirahat. Tidak! Secara fisik, istirahat perlu, tapi sebagai wirausahawan, pikiran “tetap jalan” dalam arti, keseharian kita dibiasakan terus memikirkan, kebaikan-kebaikan apa yang bisa dibangun berdasarkan peluang yang kita hadapi setiap saat.Tidak ada orang yang bisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Sukses berarti hanya hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi: rumah bagus, keamanan di bidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat. Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani.

B. P.R.A.C.T.I.C.E.S (TINDAKAN)yang Tepat dan Kepemimpinan Kewirausahaan

Kebiasaan kita adalah untuk menanik din kepada kenyamanan di dalam kepompong, sesuatu yang kita percayai lebih aman, di mana kita dapat bersantai sejenak tanpa perlu berkonsentrasi, dan mendapatkan sesuatu tanpa tenlalu memildrkan bagaimana kita melakukannya. Kebiasaan semacam ini harus digantikan dengan memahami pninsip-pninsip yang akan memastikan bahwa kita dapat mencapai tujuan kita dan berlatih dengan disiplin sampai kita bisa melakukannya.

C. ORANG-ORANG (People) yang Tepat

Anda harus menyukai orang-orang yang akan bekerja bersama Anda. Semakin Anda mengenal seseorang, semakin mungkin mereka menjadi lebih baik.. Namun realitasnya sungguh berbeda. Pemimpin wirausaha seharusnya hanya merekrut orang-orang yang memiliki chemistry yang cocok dengan mereka.Karena bersikap obyektif akan berakibat pada menemukan orang yang salah, Anda harus bersikap subjektif. Kita akan selalu peka secara intuitif terhadap orang lain; sepenti halnya terhadap sifat dan kemampuan mereka, namun kepekaan semacam ini sering kali tidak terdeteksi dalam proses seleksi yang formal.Akan cukup membantu untuk menerima bahwa dalam mengidentifikasi orang yang tepat terdapat tiga kategori yang dapat digunakan untuk mengelompokkan mereka. Apakah mereka orang yang bekerja melawan Anda, untuk Anda, atau dengan Anda. Demi kejelasan, jika orang bekerja melawan Anda, maka kemudian mereka sebaiknya tidak bekerja untuk Anda. Hanya ada satu pilihan yaitu menyingkirkan mereka. Sering terjadi klien tidak menyingkirkan koleganya dalam tindak nasionalisasi sebelum benar-benar terpaksa, yaitu setelah masalahnya menjadi terlalu besan dan organisasinya demikian menderita. Tanpa melihat situasinya, Anda akan tahu ketika orang lain bekerja tidak sesuai dengan keinginan Anda dan saya tidak bicara tentang politik atau pengumpulan nilai. Ketika perubahan diusulkan, contohnya, muncul karena dalam agenda tensembunyi tendapat penbedaan antara kritik membangun dan taktik gerilya.

D. PERAN (Role) yang Tepat

Orang yang tepat pada peran yang tepat, hingga dapat dipastikan bahwa sikapnya terhadap bagaimana ia menampilkan perannya akan tetap tepat. Selalu mantapkan peran Anda, pahami apa yang diharapkan dan Anda namun jangan batasi diri sendiri dengan harapan-harapan

E. SIKAP (Attitude) yang Tepat

Kepemimpinan kewirausahaan mencakup penanaman kepercayaan diri untuk berpikir, bertingkah laku dan bertindak dengan keberanian mengambil risiko dalam rangka merealisasikan sepenuhnya tujuan yang digariskan oleh organisasi untuk pertumbuhan yang menguntungkan bagi semua penanam modal yang terlibat.

F. KERJA TIM (Teamwork) yang Tepat

Menemukan orang-orang yang tepat, menjelaskan penan mereka, menampilkannya dengan sikap yang tepat dan mengkomunikasikan pesan yang tepat. Dengan tim semacam itu  mampu mengembangkan inovasi tepat yang mampu menarik pelanggan dan memastikan reputasi baik.

 

 

 

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

1. Dengan memperhatikan kondisi bangsa Indonesia saat ini (seperti banyaknya tenaga kerja, lapangan kerja yang sangat terbatas, rendahnya produktivitas, masih belum optimalnya penggunaan sumber daya alam serta ketidakstabilan ekonomi), maka peluang untuk meningkatkan produktivitas bangsa melalui pengembangan kewirausahaan sangat diperlukan dan masih terbuka lebar.

2. Disamping public policy serta fasilitas yang disediakan, maka kondisi, ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri akhirnya turut menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan yang relevan dan memenuhi persyaratan mengenai kurikulum, silabus, sistem delivery, instruktur, peserta, metode instruksional, sistem penilaian, proses dan hasil pendidikannya itu memang potensial dalam melahirkan pewirausaha masa depan yang prospektif.

3. Bahwa public policy dari pemerintah RI tidak boleh bersifat diskriminatif atas dasar apapun. Semua kelompok dan golongan dalam masyarakat secara yuridis formal mempunyai hak yang sama, maka sekarang tergantung pada tiap individu atau tiap kelompok dan golongan, siapa orang-orang yang secara prinsipil akan mencari dan menumbuhkan peluang bisnis. Apabila hal ini berjalan fair, maka prospek masa depan kewirausahaan Indonesia akan lebih baik dari keadaan sekarang.

4. Pengembangan kewirausahaan saat ini sangat dibutuhkan dalam rangka memperluas kesempatan kerja serta mempersiapkan keunggulan bersaing bangsa Indonesia pada era pasar global. Oleh karena itu perlu dibentuk inkubator bisnis pada setiap perguruan tinggi yang berfungsi untuk mengadopsi pengembangan kewirausahaan ke dalam proses belajar dan mengajar.

5. Perlu dikembangkan tim kerja, komitmen pimpinan, sinergi antar lembaga, baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bachruddin, Zaenal, Mudrajad Kuncoro, Budi Prasetyo Widyobroto, Tridjoko Wismu Murti, Zuprizal, Ismoyo. 1996. Kajian Pengembangan Pola Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK, Yogyakarta.

Dwi, Benedicta Prihatin. 2003. Kewirausahaan: Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Jakarta: Grasindo

Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses, Ed III. Jakarta: Salemba Empat

Soetrisno, Loekman. 1995. “Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Kemitraan: Suatu Tinjauan Sosiologis“, makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan, Hotel Radisson, Yogyakarta, 5 agustus.

Wiratmo, Masykur. 1996. Pengantar Kewiraswastaan: Kerangka Dasar Memasuki Dunia Bisnis, Ed I. Yogyakarta: BPFE

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2012 in Uncategorized

 

contoh kasus

ORGANISASI  APAKAH YANG  PALING COCOK ?

Dalam rangka menghadapi bulan suci Ramadhan yang akan datang, Kecamatan Mojotengah telah membentuk panitia yang memiliki dua tugas pokok.

 

Tugas pertama adalah meningkatkan kadar keimanan dan moralitas warganya (terutama generasi muda) secara berkelanjutan, dan tugas kedua adalah menyelenggarakan berbagai kegiatanyang berkenaan dengan bulan suci Ramadhan, dari pengajian, ceramah-ceramah keagamaan, shalat tarawih dan subuh berjamaah, bhakti sosial,sampai dengan shalat Idul Fitri, serta pengumpulan zakat fitrah dan pendistribusiannya.

 

Aparat kecamatan dan segenap anggota panitia yang ada telah bertekad bahwa bulan suci Ramadhan kali ini akan dijadikan momentum“mawas diri dan penyadaran diri”, sehingga kegiatan kerohanian dan pembinaan mental ini tidak hanya dilakukan secara temporer, tetapi juga dilanjutkan sampai dengan pasca Ramadhan.

 

Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah kecamatan telah mengajukan usulan kepadaWalikotamadya dengan tembusan kepada Gubernur, untuk melembagakanfungsi pembinaan kerohanian tersebut kedalam struktur organisasi kecamatan, yakni dengan membentuk seksi kerohanian.

 

Berdasarkan hal-hal tersebut, Anda diminta untuk menganalisis kasus dengan menggunakan teori-teori organisasi, dan menjawab pertanyaan-pertanyan dibawah ini:

  1. Menurut Anda, perlukah tugas pembinaan kerohanian dilembagakan dalam struktur organisasi Kecamatan ? Apa alasan Anda ?
  2. Jika perlu, tipe atau bentuk organisasi apa yang paling tepat untuk menyelenggarakan tugas pembinaan kerohanian tersebut ? Sebaliknya jika tidak perlu, kemukakan alasan Anda !
  3. Apa kira-kira kelebihan dan kekurangannya jika tugas tersebutdilembagakan ? Dan apa pula kira kira kelebihan dan kekurangannya jika tugas tersebut tidak dilembagakan ?

bagi yang punya pikiran luas boleh menjawab pertanyaan di atas, atau bisa kirim di email saya mazlankuato18@gmail.com. dengan kode latihan kasus..

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2012 in Uncategorized